Saturday, August 25, 2012
aku ingin mengingat
aku ingin meningat caramu, menyakitiku dengan pedih.
dengan (pernah) memilikimu, adalah kebahagiaan besar di hidupku.
aku ingin mengingat rasakan rindu, saat sunyi melenyapkan sepi.
dengan hati nanar, kau mengajari untuk aku agar tetap tegar dan ikhtiar.
aku senang kau datang, sesaat lalu pergi.
datanglah lagi dan lagi..,
aku ingin sekali lagi merasakan rasanya kau sakiti.
pergilah, pergi.., hingga pada akhirnya kamu kembali
kepada hatimu yang aku cintai.
kenangan, kapankah kamu dan aku bisa bertemu mata?
berbagi kata, dalam cerita kisah kita?
bila saja nanti kau tak kembali lagi, atau ternyata aku telah menyatu dengan bumi.
tolong kenang aku sempai usiamu menentang tubuhmu.
Friday, August 17, 2012
Begini Caraku Mengawetkan Cinta
Saya menulis kalimat sederhana
Tentang cinta yang (belum) pasti untuk siapa
Tentang kata yang pasti akan menjadi nyata
Puisi ini...
Akan saya tuliskan di belakang foto pernikahan nanti
Dan akan saya bacakan, ketika saya..
Sedang berada di dalam kemarahan atau sebaliknya.
Bahwa suatu saat nanti saya akan mengucapkan selamat tinggal
Begitu sebaiknya, juga sebaliknya
Karena di dunia ini tidak ada yang kekal.
Ini bukan karena perihal cinta kita yang kandas
Tapi ini karena cinta kita yang telah tuntas
Dengan kata-kata sederhana
Begini caraku mengawetkan cinta
Untuk itu ingatlah satu kalimat
Atau dua kata sederhana yang sengaja diawal kubuat
Bahkan kalau bisa catat!
Agar kamu bisa terus mengingat
Kini, usia puisi ini telah setengah abad
Dari saat pertama saya buat
Salah satu dari kita pasti akan wafat
Sungguh, pasti masing-masing dari kita akan berat
Untuk mengucapkan kalimat selamat tinggal sungguh sangat berat!
Tapi apa boleh buat, walau berat..
"Sekarang saatnya untuk kita mengucapkan; selamat tinggal".
[di tulis di Jakarta, 9 Agustus 2012]
Tentang cinta yang (belum) pasti untuk siapa
Tentang kata yang pasti akan menjadi nyata
Puisi ini...
Akan saya tuliskan di belakang foto pernikahan nanti
Dan akan saya bacakan, ketika saya..
Sedang berada di dalam kemarahan atau sebaliknya.
Bahwa suatu saat nanti saya akan mengucapkan selamat tinggal
Begitu sebaiknya, juga sebaliknya
Karena di dunia ini tidak ada yang kekal.
Ini bukan karena perihal cinta kita yang kandas
Tapi ini karena cinta kita yang telah tuntas
Dengan kata-kata sederhana
Begini caraku mengawetkan cinta
Untuk itu ingatlah satu kalimat
Atau dua kata sederhana yang sengaja diawal kubuat
Bahkan kalau bisa catat!
Agar kamu bisa terus mengingat
Kini, usia puisi ini telah setengah abad
Dari saat pertama saya buat
Salah satu dari kita pasti akan wafat
Sungguh, pasti masing-masing dari kita akan berat
Untuk mengucapkan kalimat selamat tinggal sungguh sangat berat!
Tapi apa boleh buat, walau berat..
"Sekarang saatnya untuk kita mengucapkan; selamat tinggal".
[di tulis di Jakarta, 9 Agustus 2012]
Subscribe to:
Comments (Atom)