Beberapa hari yang lalu, tepatnya (7/5) baru saja saya bertemu dengan Wendi Putranto, seorang Executive Editor Rolling Stone Magazine. Seorang jurnalis yang menginspirasi saya dengan cara pemikirannya. Kepentingan saya bertemu dengan dia adalah bertujuan untuk menjadikan dia sebagai narasumber film dokumenter yang sedang saya garap dengan tim tentang studio musik Lokananta. Pilihan saya jatuh kepada seorang Wendi Putranto karena dia merupakan seorang jurnalis musik yang berkecimpung sangat lama di dunia jurnalistik musik Indonesia.
Awal mula cerita, saya telah mempunyai konsep film dokumenter telah tersusun dengan rapih. Tapi saya hanya mengetahui dia lewat twitter. Dari sekian banyak followers twitter akun @wenzrawk, saya merupakan salah satu followers-nya. Ketika saya iseng membuka timeline dari @wenzrawk, kebetulan akun email dia waktu itu terdapat di dalam timeline-nya. Jadi saya tidak perlu lagi repot-repot untuk menanyakannya. Nah! Email sudah dapat. Langkah selanjutnya jelas saja saya langsung mengirimkan email yang bertujuan untuk membuat janji agar saya dan tim bisa melakukan peliputan. Bersyukur Mas Wend merupakan orang yang cukup responsif dengan email saya. Akhirnya ditentukanlah tanggal yang diatas saya sebutkan tadi.
Pertemuan saya dengan Mas Wend berlangsung tidak cukup lama. Saya tiba di kantor Rolling Stone tempat dia bekerja sekitar pukul 18:30 (padahal seharusnya saya janjian sekitar pukul 18:00. Hehe). Untung Mas Wend sangat memaklumi hal ini dan saya berharap semoga dia sedang sibuk pada jam tersebut. Setiba di kantor Rolling Stone, saya disapa hangat oleh satpam yang berjaga di kantor tersebut. Di persilahkan saya pada sebuah ruangan yang cukup tenang yang sesuai untuk standart pengambilan gambar. Tanpa buang waktu, saya langsung set kamera yang saya bawa. Melakukan uji coba pada kamera beberapa kali agar gambar yang dihasilkan cukup baik. Setelah sekitar 15 menit berselang, datanglah jurnalis inspirator saya. Wow! Saya sempat terdiam sejenak. Entah apa yang harus saya katakan. Saya hanya tersenyum sampai saya lupa untuk mengenalkan nama saya sendiri. Hehe. Sapaan hangat dari dia membuat saya sedikit tersadar. Tapi tetep rasa grogi dan deg-degan masih terasa sangat jelas. (ini pertama kalinya saya mewawancari seorang inspirator hidup saya). Obrolan-obrolan pembuka dilontarkan untuk mencairkan suasana. Minuman dingin dan ruangan AC membuat pikiran menjadi dingin. Setelah semuanya siap. Mulailah saya dalam sesi wawancara. Seperti yang saya ucapkan diawal. Jawaban yang terucap dari seorang Wendi Putranto lagi-lagi membuat saya cuma bisa membuat saya bengong dan berkata "wow". Itu terjadi karena jawaban dia yang luar biasa ngehek dan cerdas. Pemikiran-pemikiran aneh sang Jurnalis tertumpahkan hanya dalam hitungan detik seusai pertanyaan dilontarkan. Yaa, inilah yang membuat saya terinspirasi oleh dia. Pemikiran aneh yang nyeleneh tapi cerdas.
Sekitar 45 menit wawancara selesai. Seluruh pertanyaan telah habis dilahap oleh Mas Wend. Diselang waktu, saya mencoba isi dengan diskusi kecil tentang musik Indonesia. Sementara teman saya mengemasi peralatan kamera satu demi satu. Hanya satu jam saya berhadapan dengan sang jurnalis ngehek inspirator saya itu. Sebentar memang. Tapi menurut saya itu merupakan momment yang cukup lama. Mungkin karena grogi dan ruangan AC membuat saya terasa membeku. Sebelum pamit saya mencoba mengabadikan momment dengan dia. Yeah! Ini hari yang istimewa.. Hehe.