Showing posts with label my self. Show all posts
Showing posts with label my self. Show all posts

Saturday, September 28, 2013

Selamat 28, September.

Selamat 28, Septermber.
Saat ini adalah hari dimana saya dilahirkan, hari dimana saya merasakan kefanaan di dunia keluar dari rahim seorang ibu yang sebelumnya mengalami proses yang cukup lama. Terimakasih, Ibu, Ibu, Ibu, Ayah.

Menurut saya, tidak ada yang harus dirayakan untuk bertambahnya usia. Kita hanya harus menghargainya. Biasanya saya menghargai hari kelahiran dengan perenungan dan nyepi. Ini adalah saat dimana saya semakin gelisah untuk menjalani hidup. Semakin merasakan tanggung jawab dalam menjalani hidup. Bertambahnya usia yang semakin tua atau pemikiran yang tidak bisa menjadi dewasa bukanlah suatu masalah. Tetapi yang menjadi masalah adalah berpikir jika hidup saya tidak bermanfaat untuk sesama. Dan itu yang sering ada dalam hidup saya. Saya tidak tahu sisa umur saya berapa. Tetapi, hidup berbicara tentang perjuangan. Berarti sudah cukup lama saya untuk merasakan hidup. Setelah melewati usia belasan, sekarang saya mulai untuk memasuki usia puluhan. Dan ini merupakan awal dari saya untuk merasakan usia puluhan. Merasakan awal dari kehidupan mulai dari fase Nol kembali.

Saya percaya bahwa Nol adalah awal untuk kita ketahap berikutnya mulai dari awal kembali. Menurut saya, 0-10 merupakan masa kecil, 10-20 merupakan masa remaja, 20-30 masuk kedalam masa dewasa hingga kematangan, 30-40 berada sampai di usia matang, 40-50 masuk kedalam usia matang menuju usia tua kita, 50-60 saat dimana kita harusnya semakin merindukan kepada yang menciptakan kita menjadi manusia seutuhnya. Lebih dari usia tersebut itu adalah bonus untuk kita lebih menikmati kehidupan. Kita mempunyai lima tahapan dalam hidup. Tapi saya hanya membagi menjadi empat bagian: Remaja, Dewasa, Matang, Tua. Karena masa kecil (anak-anak) merupakan masa pembentukan diri kita, belum seutuhnya mengetahui kehidupan. Atau dalam bahasa agama disebut dengan akil-baligh. Selain itu, empat bagian ini pun saya ambil dalam karakter diri dalam tokoh pewayangan Punakawan, yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.

Lagi, menurut saya kita harus menanamkan diri Punakawan dalam diri yang terdiri dari Cipta, Rasa, Karsa, dan Karya. Pada usia remaja kita memasuki proses Cipta (pemikiran dan akal), dewasa kita memasuki proses Rasa (memakai hasil pemikiran dan akal dengan perasaan), Karsa adalah tahap dimana kita memasuki usia matang (niat dan kemauan), dan sampai pada puncaknya Karya (pencapaian dari Cipta, Rasa, dan Karsa menjadi sesuatu yang menghasilkan). Atau jika ingin menemukan siapa diri kita dari dalam. Kita harus melalui jalan yang sepi, menuju jalan yang sunyi, lalu menuju ke jalan hening, hingga sampai pada akhirnya mencapai jalan suwung. Jalan sepi adalah jalan menyendiri dan jauh dari keramaian rame ing sepi, disini pemikiran dan akal diolah. Menuju kedalam jalan hening atau sunyi dengan kembali ke keramaian rame ing rame, maka disini rasa akan diasah dengan keseharian. Lalu, kita melalui jalan hening yang dimana kita menyepi dalam keramaian sepi ing rame. Hingga pada akhirnya kita menempuh jalan suwung, dimana sepi dan ramai tidak ada bedanya. Mencipta disemua keadaan. Berkarya sepanjang masa. Tetapi, semua ini tidak harus terpatok pada usia yang saya sebut diatas. Jika Anda baru mengetahui pelajaran yang seperti ini dan ingin mengetahui kesejatian diri, bisa memulai dari awal. J

Pada waktu SMP atau proses setelah saya mengalami masa kecil, saya mengalami proses awal kegelisahan dalam diri. Kegelisahan disini bukan berarti galau. Menurut saya, kegelisahan adalah suatu keresahan yang mimiliki poros, tetapi kalau galau itu tidak. Dalam kegelisahan saya mulai mempertanyakan siapa sesungguhnya diri saya. Mempelajari asal muasal diri saya (asal muasal perwujudan diri saya). Darimana saya diciptakan, untuk apa, dan nanti akan kembali kemana setelah saya mati. “Karena sesungguhnya sesuatu yang hidup sudah pasti akan mati, tetapi yang mati belum tentu akan dimatikan”. Pertanyaan demi pertanyaan muncul dari akal pemikiran saya. Dengan awal kegelisahan tersebut, saya mengalami yang namanya proses berkembang. Saya mencoba berkembang dengan diri saya sendiri. Mencari tahu rahasia (jawaban) dari setiap pertanyaan. Dan pertanyaan sudah membuat saya menjadi berkembang. Dalam hidup pertanyaan bagaikan batu bata yang dibangun untuk menjadi suatu rumah. Disusun sekian banyak dan sedemikian rupa hingga rumah tersebut itu jadi. Pertanyaan juga suatu proses pembelajaran kita. Untuk itu mengapa dalam hidup kita diharuskan untuk selalu belajar. Apapun, dimanapun, kapanpun, oleh siapapun, dan dengan cara bagaimanapun. 

Sejak SMA saya juga mulai mempertanyakan kesejatian hidup. Saya mulai merindukan yang namanya kematian. Merindukan pencipta saya. Saya bukan orang yang takut untuk mati. Saya merupakan orang yang takut untuk hidup di dunia. Tapi dunia juga telah mengajarkan saya untuk berkelana dalam hidup. Berserah. Mencari keseimbangan dalam diri. Mengisi ketiadaan dalam diri. Meyakini diri dalam diri sendiri. Belajar. Diskusi. Tidak untuk sukses. Tidak untuk bahagia. Toh nanti juga kita akan mati. Selain itu, sejauh ini saya pun masih belum mendapatkan makna dari sukses dunia yang seungguhnya/kesejatian, begitupun bahagia. Karena yang saya dapat di dunia hanyalah kegembiraan dan kesenangan semata. Sedangkan yang saya cari adalah bahagia yang sejati. Mungkin ini bisa menjadi bahan pembelajaran saya selanjutnya. Tetapi sesungguhnya bukannya hidup di dunia ini hanya senda gurau belaka? Ya, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau [QS Muhammad [47]:36]. Hidup adalah permainan sandiwara. Didalamnya terdapat kisah, babak, plot, adegan, skenario, karakter dan ide. Dia yang menjadi Sutradara, yaitu empunya ide. Dia menghidupkan karakter. Dari karakter muncul skenario, yang sedari-mula telah dituliskan. Tiap aktor atau aktris adalah perwujudan dari karakter yang kisah hidupnya dalam babak demi babak telah ditentukan dalam plot atau alurnya. Sesempurna mungkin ditiap adegan dan tidak mungkin keluar dari skenario. Matilah sandiwara, kisah, babak, plot, adegan dan skenario jika Sutradara menghendaki. Berubah plot jika Sutradara menghendaki. Namun Ide tidak akan pernah mati. Ia hidup sejak bermula hidup. Hidup yang tidak berakhir.

Saya menyadari bahwa saya terlahir sebagai janin sendiri-bukan berarti tanpa bantuan dan pertolongan orang lain-maka nanti menjadi mayat pun sendiri. Hingga sekarang saya menganggap diri saya di dunia ini tidak ada. Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, tidak mempunyai apa-apa untuk dunia. Tetapi apa-apa yang ada hanyalah Dia, Allah Yang Maha Ada. Meski tidak tampak, sesungguhnya Ada-Nya ada. Seperti angka yang dimulai dari 1-9, Dia adalah 0. Tidak berada didalam, tidak berada diluar dari angka. Seperti saya yang tidak bisa melihat telinga, jantung, paru-paru dan semua organ yang berada didalam diri saya atau tidak tampak di dalam saya sendiri, saya meyakini Ada-Nya. Karena buktinya saya bisa mendengar, bernafas, dan hidup. Seperti agama Islam yang berkedudukan sebagai agama penyempurna dari semua agama. Saya pun ingin menjadi penyempurna untuk semesta dan diri saya. Penyempurna harus ada yang disempurnakan, pun sebaliknya. Jika tidak ada yang disempurnakan lalu apa fungsi penyempurna. Penyempurna pun bukan berarti paling sempurna. Maka dari itu Islam tidak berdiri sendiri, saling menguatkan dengan agama-agama lain. Begitupun hidup dan diri saya. Selain dengan orang-orang yang berada disekitar saya sebagai penyempurna untuk diri saya. Pemberdayaan akal, hati, dan pemikiran saya tetap harus disempurnakan. Jasmani-rohani dan raga-jiwa harus seimbang agar saling menguatkan. Bukan hanya raga yang harus diolah. Begitupun hati, rasa dan ilmu juga perlu untuk diolah.

Nol adalah awal dari segalanya. Saya dalam proses untuk mencoba bunuh diri. Bunuh diri bukan berarti membunuh diri (raga). Tetapi membunuh segala rasa penyakit hati (sirik, dengki, iri, dendam, munafik, dusta, dsb) untuk menjadi terlahir kembali. Berkenala kembali dari titik nol di tahap berikutnya.  Menjadi manusia yang berbudaya-manusia yang mengambil suatu makna- bukan manusia pragmatis-manusia realistis yang mengambil nilai guna- dalam hidup di dunia. Mungkin dengan ini saya bisa menemukan bahagia yang sejati sebelum berlanjut untuk mencapai Kesadaran asal-muasal kejadian. Lalu Menemukan Cahaya. Cahaya di atas Cahaya. Semoga.

Tidak untuk bermaksud untuk menggurui, tetapi saya disini hanya berbagi bagaimana saya belajar. Bersyukur jika bermanfaat. Tidak pun tidak apa-apa. Tidak ada paksaan. Maafkan segala kesalahan saya dalam berkata.
Salam--

Friday, July 19, 2013

Pertanyaan dan Pertanyaan II

Dalam hidup, kita selalu disuguhi oleh pertanyaan-pertanyaan. Meski pada mulanya, setiap manusia pada saat dilahirkan itu sama. Sama-sama tidak memiliki pengetahuan, dan tidak memiliki pengalaman. Setiap manusia dilahirkan dari orang tua [ayah-ibu]. Orang tua pada awalnya adalah seorang anak. Tapi seorang anak belum tentu menjadi orang tua. Maka dari itu, agama mengajarkan untuk selalu berbakti kepada orang tua, dengan mendoakannya dari doa anak yang sholeh. Seorang anak dilahirkan dari rahim ibunya dengan keadaan yang tidak bisa apa-apa. Lalu Tuhan memberikan pendengaran, pengelihatan, akal, dan hati. Setelah itu orang tua memberikannya modal awal dengan cara kasih sayang, pendidikan, pengajaran, pengalaman dan juga keyakinan. Hingga membuat seorang anak itu berkembang. Seperti yang sudah kita tahu, pertumbuhan dan perkembangan, anak bisa belajar dari keluarga, lingkungan, sekolah dan pergaulan. Dengan pengetahuan seorang anak bisa mempelajari dan menabung pengalaman-pengalaman hingga nantinya dewasa dan bisa untuk membedakan serta memutuskan sesuatu yang benar/salah dengan akal sehat dan hati nurani.

Ketika seorang anak mengalami pubertas, mungkin pertanyaan mendasar mulai terdapat dalam benak dan diri seorang anak. Semakin rasa ingin tahu yang hinggap didalam dirinya bagaikan seorang filsuf. Anak mulai ingin mengetahui siapa dirinya, untuk apa sesungguhnya mereka ada di dunia, sejatinya untuk apa mereka dilahirkan, dan pada kepada siapa mereka nantinya akan berpulang. Bahkan yang lebih fundamental adalah ketika seorang anak mempertanyakan kenapa mereka harus memiliki keyakinan yang sama seperti orang tuanya. Pernah dihantui pertanyaan seperti ini? Sudah ketemu jawabannya? Oke. Ini yang mau sedikit saya share. Bukan untuk maksud menggurui, tapi saya hanya ingin share pengalaman saya aja kepada kalian.

Ketika waktu kecil saya tidak pernah dikasih tau “kenapa” say harus mengikuti keyakinan orang tua. saya hanya diberi tahu apa, siapa, bagaimana, dimana.  Apa agamamu? Islam, Kristen, Hindu, dan Budha. Siapa Tuhanmu? Allah pada Islam. Bapak, Putra, Roh Kudus pada Kristen dan Para Dewa untuk Hindu dan Budha.  Dimana menjalankan ibadah? Masjid, Gereja, Pura, Wihara. Tapi tidak bernah diberitahu “kenapa”. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW, "Orangtualah yang pada awalnya menjadikan seorang anak itu beragama Islam, Nasrani, Majusi, atau Yahudi".  Sampai pada akhirnya saya mencoba untuk mencari sendiri jawaban dari setiap pertanyaan. Saya tidak ingin bertuhan sesuai dengan dogma dari orang tua, dokrin dari guru dan dari pengaruh lingkungan yang ada. Dengan pertanyaan yang ada, saya menjadi semakin mendalami agama. Saya meyakini bahwa Tuhan itu Esa [satu/tunggal]. Belum jauh saya mendalami agama yang saya yakini, saya sempat tidak yakin dengan agama yang saya peluk. Saya mempertanyakan kenapa agama yang saya yakini ini akrab sekali dengan yang namanya kekerasan bahkan teroris. Lalu saya mencoba untuk tidak hanya sekadar memeluk agama, tapi menyetubuhi (menjiwai) agama. Saya mencoba mempelajari beberapa agama lain. Tapi saya belum memutuskan untuk berpindah atau keluar dari agama saya. 

Pada dasarnya semua agama itu sama, yaitu sama-sama mengajarkan yang namanya kebaikan. Islam itu Indah, Kristen itu kasih, Budha itu Cinta dan Hindu itu Damai. Tapi lagi-lagi saya tetap meyakini bahwa Tuhan itu Esa. Saya tidak menemukan itu diketiga agama tersebut, selain agama dari keturunan saya (Islam). Allah. Tidak ada yang lain selain Allah. Dia sesungguhnya yang sempurna, pemelihara manusia, penguasa manusia, dan pencipta manusia, sesuai yang tekandung dalam surat An-Nas. Saya kembali untuk mempelajari lebih jauh, semakin menjiwai, semakin merasuk. Ternyata Islam adalah Mulia (Sempurna). Muslim adalah jalan menuju mulia. Islam sesungguhnya adalah memberi rahmat bagi Alam Semesta “rahmatan lil-aalamiina”. Mengajarkan untuk memuliakan manusia, mencintai alam semesta, dan isi dari alam semesta itu sendiri. Bukan hanya kepada sesama muslim saja. Seperti yang saya pelajari dari perkataan dari guru saya, “Islam itu bukan sekadar salat, puasa, zakat, haji, atau syariah, tapi Islam adalah jujur kepada manusia. Islam adalah cinta kepada manusia, Islam adalah keindahan. Jadi, kalau Anda mengaku Islam tapi tidak indah atau suka kekerasan, Anda belum tentu Islam”. Islam tidak hanya seperti yang diucapkan oleh Ustad di televisi, memperbincangkan betapa angker Islam, pahala dan dosa, surga dan neraka, halal dan haram. Tapi dengan Tauhid, Tasawuf dan Sufi Islam menjadi jauh lebih Indah. 

Tidak ada paksaan dalam beragama. Tidak seharusnya perbedaan pendapat dan perbedaan keyakinan memutuskan perkawanan. Apalagi, Allah menciptakan umat manusia berbeda-beda memang untuk saling mengenal dan bergaul. Terjawab sudah pertanyaan saya. Pastinya masih akan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain nantinya. Karena sesungguhnya manusia tidak akan pernah luput dari pertanyaan. Sekali lagi, ini tidak ada maksud untuk menggurui atau apapun. Maaf kalau ada yang tidak berkenan :).

Jadi sampai saat ini, Masihkah kau beragama sesuai agama keturunan? Masihkah kau bertuhan sesuai dogma orangtua, doktrin guru, atau pengaruh lingkungan? Mengapa kau tidak memulai sendiri perjalanan menemukan kesejatian hidup? Sebelum terlambat, kalian bisa memulainya dari sekarang dan meyakini apa yang benar-benar kalian yakini ;).

salam--

Friday, May 10, 2013

Pengalaman Berharga

Beberapa hari yang lalu, tepatnya (7/5) baru saja saya bertemu dengan Wendi Putranto, seorang Executive Editor Rolling Stone Magazine. Seorang jurnalis yang menginspirasi saya dengan cara pemikirannya. Kepentingan saya bertemu dengan dia adalah bertujuan untuk menjadikan dia sebagai narasumber film dokumenter yang sedang saya garap dengan tim tentang studio musik Lokananta. Pilihan saya jatuh kepada seorang Wendi Putranto karena dia merupakan seorang jurnalis musik yang berkecimpung sangat lama di dunia jurnalistik musik Indonesia.

Awal mula cerita, saya telah mempunyai konsep film dokumenter telah tersusun dengan rapih. Tapi saya hanya mengetahui dia lewat twitter. Dari sekian banyak followers twitter akun @wenzrawk, saya merupakan salah satu followers-nya. Ketika saya iseng membuka timeline dari @wenzrawk, kebetulan akun email dia waktu itu terdapat di dalam timeline-nya. Jadi saya tidak perlu lagi repot-repot untuk menanyakannya. Nah! Email sudah dapat. Langkah selanjutnya jelas saja saya langsung mengirimkan email yang bertujuan untuk membuat janji agar saya dan tim bisa melakukan peliputan. Bersyukur Mas Wend merupakan orang yang cukup responsif dengan email saya. Akhirnya ditentukanlah tanggal yang diatas saya sebutkan tadi.

Pertemuan saya dengan Mas Wend berlangsung tidak cukup lama. Saya tiba di kantor Rolling Stone tempat dia bekerja sekitar pukul 18:30 (padahal seharusnya saya janjian sekitar pukul 18:00. Hehe). Untung Mas Wend sangat memaklumi hal ini dan saya berharap semoga dia sedang sibuk pada jam tersebut. Setiba di kantor Rolling Stone, saya disapa hangat oleh satpam yang berjaga di kantor tersebut. Di persilahkan saya pada sebuah ruangan yang cukup tenang yang sesuai untuk standart pengambilan gambar. Tanpa buang waktu, saya langsung set kamera yang saya bawa. Melakukan uji coba pada kamera beberapa kali agar gambar yang dihasilkan cukup baik. Setelah sekitar 15 menit berselang, datanglah jurnalis inspirator saya. Wow! Saya sempat terdiam sejenak. Entah apa yang harus saya katakan. Saya hanya tersenyum sampai saya lupa untuk mengenalkan nama saya sendiri. Hehe. Sapaan hangat dari dia membuat saya sedikit tersadar. Tapi tetep rasa grogi dan deg-degan masih terasa sangat jelas. (ini pertama kalinya saya mewawancari seorang inspirator hidup saya). Obrolan-obrolan pembuka dilontarkan untuk mencairkan suasana. Minuman dingin dan ruangan AC membuat pikiran menjadi dingin. Setelah semuanya siap. Mulailah saya dalam sesi wawancara. Seperti yang saya ucapkan diawal. Jawaban yang terucap dari seorang Wendi Putranto lagi-lagi membuat saya cuma bisa membuat saya bengong dan berkata "wow". Itu terjadi karena jawaban dia yang luar biasa ngehek dan cerdas. Pemikiran-pemikiran aneh sang Jurnalis tertumpahkan hanya dalam hitungan detik seusai pertanyaan dilontarkan. Yaa, inilah yang membuat saya terinspirasi oleh dia. Pemikiran aneh yang nyeleneh tapi cerdas.

Sekitar 45 menit wawancara selesai. Seluruh pertanyaan telah habis dilahap oleh Mas Wend. Diselang waktu, saya mencoba isi dengan diskusi kecil tentang musik Indonesia. Sementara teman saya mengemasi peralatan kamera satu demi satu. Hanya satu jam saya berhadapan dengan sang jurnalis ngehek inspirator saya itu. Sebentar memang. Tapi menurut saya itu merupakan momment yang cukup lama. Mungkin karena grogi dan ruangan AC membuat saya terasa membeku. Sebelum pamit saya mencoba mengabadikan momment dengan dia. Yeah! Ini hari yang istimewa.. Hehe.

Wednesday, April 3, 2013

Sendiri Itu Asik

Kemarin merupakan tanggal 2 April, berarti terhitung sudah 2 tahun saya menjadi jomblo. Sebenernya ini bukan sesuatu yang membanggakan yah? Hehe. Tapi yang ingin saya bahas saat ini bukan masalah kenapa saya menjadi jomblo, karena itu sudah pernah saya post di blog ini. Lagian juga yang udah berlalu ya biarin aja berlalu. Iya ga? Hehe.

Oke. Sekarang saya pengen sedikit berbagi aja, tanpa ada maksud untuk menggurui atau apapun itu. Pada awalnya, sendiri memang merupakan suatu hal yang ga enak. Saat harus berpisah dari orang yang dicintai rasanya memang sangat menyakitkan. Bener ga? Itu semua terjadi karena perpisahan itu merupakan suatu hal yang sama sekali tidak diharapkan. Apalagi hubungan yang dibangun terbilang belum lama. Pasti rasa sakit yang kita alami lebih besar ketimbang hubungan itu sudah terjalin bertahun-tahun. Atau malah sebaliknya? Ah tapi yang pasti setiap perpisahan itu menyakitkan. Mau perpisahan yang diputuskan secara bersama/sepihak ataupun perpisahan yang sudah di tentukan oleh Tuhan (kematian). Hehe. Lagian memang ga ada yang mengharapkan adanya sebuah perpisahan. Karena setiap orang pasti mengharapkan suatu hubungan terjalin dengan baik. Tapi tanpa bisa dipungkiri, setiap hubungan yang terjalin pasti ada sebuah perpisahan. Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Lalu hubungan biar bisa terjalin dengan baik bagaimana?

Hubungan yang baik? Saya pernah sharing dengan seorang temen saya tentang ini. Saya tanya dia "apa sih yang penting dalam menjalin hubungan?", terus dia jawab "yang jujur, sayang, dan peduli", "oke terus", tapi ga ada yang sempurna kan?". Kalau saya simpulkan disini memang ga ada manusia yang bisa sempurna, tetapi jika kedua orang bisa saling mengisi, menurut saya kesepurnaan itu pasti ada. Oke, tapi bukan ini yang saya bahas.

Bukan maksud untuk menggurui atau apapun. Ini saya hanya sedikit berbagi pengalaman saya aja. Memang apa yang dibilang teman saya itu benar. Tapi menurut saya yang penting dalam menjalin suatu hubungan itu adalah adanya rasa saling toleransi, saling memahami dan saling mengerti diantara keduanya. Kenapa? Karena setiap orang itu pasti memiliki keinginan serta ego-nya sendiri. Dan keinginan setiap orang itu pasti berbeda-beda. Jika diantara kedua orang itu tidak ada toleransi, ya maka yang ada malah adu ego diantara mereka dan membuat suatu hubungan tersebut tidak terjalin secara baik. Ya, sekali lagi itu hanya pendapat saya, jadi jika setuju ya silahkan tetapi jikapun tidak ya ga apa-apa.

Itu sedikit pembahasan tentang suatu hubungan, selanjutnya saya ingin sedikit ngebahas tentang menjadi 'single'. Menurut saya, single itu hanya status. Single juga ternyata tidak seburuk apa yang dipikirkan. Jika hanya ingin kasih sayang, banyak kasih sayang yang bisa didapat. Mesikupun itu bukan dari seorang kekasih. Tapi kasih sayang dari keluarga dan orang-orang terdekat bisa membuat anda untuk tetap mendapatkan kasih sayang. Single juga bisa membuat anda lebih fokus untuk meraih mimpi-mimpi dan cita-cita yang diinginkan (apalagi kalau usia Anda masih terbilang muda). Malah saya sendiri aja sekarang lebih nyaman 'sendiri' jika dibanding saat memiliki pasangan yang sekiranya itu hanya sebagai 'status' saja. (Dalam kata lain biar dibilang engga jomblo).

Sendiri memang bisa membuat saya nyaman. Saya bisa melakukan kegiatan apa saja yang saya suka dengan teman-teman, melakukan apa saya inginkan tanpa dibatasi, meraih mimpi, cita-cita dan masa depan saya dengan fokus. Tanpa harus terbagi. (Sebab jika kita telah memutuskan untuk memiliki pasangan, kita harus membagi seluruh hidup dengan pasangan bukan? Mulai dari waktu, kebahagiaan, dan hal yang lainnya). Selain itu juga memang belum ada aja wanita yang tepat untuk saya atau memang belum ada wanita yang beruntung yang bisa mendapatkan saya? Hehe :p.

Sedikit sharing tentang diri saya. Saya memang orang yang punya sisi idealis tinggi, sistem pemikiran yang random, ya kalau bisa dibilang 'semau gue-lah'. Jadi engga gampang juga kalau ingin memahami dan menjalin hubungan dengan saya. Banyak memang yang sempet deket dengan saya, tapi itu akhirnya hanya sampai sebagai teman. Karena ga ada kecocokan, dan rasa menimbulkan rasa nyaman untuk saya maupun dia. Malah-malah saya dibilang 'raja PHP'. Sebenarnya sih engga ada niatan untuk bikin PHP. Tapi saya merupakan bukan tipe orang yang ga bisa dengan cepat memilih pasangan. Perlu waktu yang lama untuk saya memahami orang tersebut dan sampai akhirnya saya yakin. Sebab ada beberapa kriteria tersendiri dalam diri saya untuk memilih pasangan. Karena untuk mencari pasangan, saya engga mau itu hanya sekadar status. Makanya saya agak sedikit pemilih dengan hal ini. Hehe.

Itu aja sih yang ingin saya share. Jadi, sebelum memulai suatu hubungan. Yakini lagi dalam diri anda. Apakah itu sesungguhnya cinta, atau hanya serupa cinta? :)

Salam~

Monday, January 30, 2012

Celoteh Tengah Malam

Hallo Blogspot..
Sudah lama sekali saya tidak menulis disini. Ini dikarenakan saya yang sibuk dengan jadwal kuliah dan tugas-tugas yang numpuk di kampus (maklum masih baru-baru jadi mahaswa). Selain itu sebenerya saya juga sudah kangen banget untuk menulis. Makanya selagi ada waktu untuk menulis, maka sekarang ga saya sia-siain kesempatan ini. Hehe.

Kali ini saya gak nulis tentang yang galau-galau atau tentang cinta-cintaan. Tapi kali ini saya akan coba menulis tentang kuliah dan liburan saya di Bogor (kota yang penuh dengan kenangaan ini) hehe.

Enam bulan menjadi mahasiswa teryata sungguh menyenangkan ya. Selain banyak teman-teman baru. Pelajaran baru. Serta pengalaman-pengalaman baru yang pastinya belum saya dapat sebelumnya. Semuanya menyenangkan. Dan benar apa kata orang-orang bijak bilang "kalau pekerjaan dilakukan dengan senang hati, maka akan terasa ringan". Meskipun tugas-tugas kuliah banyak, tapi saya mengerjakannya dengan enjoy dan merasa tak terbebani. Ini dikarenakan saya senang dengan tugas-tugas yang saya kerjai (walaupun ga semua tugas saya suka sih, ada lah beberapa yang bikin males) hehe.

Sekarang saya udah libur kuliah. Maka dari itu saya memilih untuk beristirahat sejenak dari kepenatan urusan kampus. Selain itu juga sambil nunggu pengumuman hasil UAS. Dan semoga saja dari hasil UAS kemaren saya bisa mendapatkan minimal IP 3. Amin ya Allah. Hehe.

Segitu dulu aja deh yah blogspot. Sebenernya masih banyak lagi rencana saya liburan sama teman-teman. Tapi kalau di omongin sekarang gak seru juga ya. Nanti aja kalau sudah terealisasikan baru saya tulis penuh tentang liburan saya. Hehe.

Oiya maaf ya kalau agak acak-acakan layoutnya, maklum nulis dari handphone. Hehe.
Salam--