Friday, July 19, 2013

Pertanyaan dan Pertanyaan II

Dalam hidup, kita selalu disuguhi oleh pertanyaan-pertanyaan. Meski pada mulanya, setiap manusia pada saat dilahirkan itu sama. Sama-sama tidak memiliki pengetahuan, dan tidak memiliki pengalaman. Setiap manusia dilahirkan dari orang tua [ayah-ibu]. Orang tua pada awalnya adalah seorang anak. Tapi seorang anak belum tentu menjadi orang tua. Maka dari itu, agama mengajarkan untuk selalu berbakti kepada orang tua, dengan mendoakannya dari doa anak yang sholeh. Seorang anak dilahirkan dari rahim ibunya dengan keadaan yang tidak bisa apa-apa. Lalu Tuhan memberikan pendengaran, pengelihatan, akal, dan hati. Setelah itu orang tua memberikannya modal awal dengan cara kasih sayang, pendidikan, pengajaran, pengalaman dan juga keyakinan. Hingga membuat seorang anak itu berkembang. Seperti yang sudah kita tahu, pertumbuhan dan perkembangan, anak bisa belajar dari keluarga, lingkungan, sekolah dan pergaulan. Dengan pengetahuan seorang anak bisa mempelajari dan menabung pengalaman-pengalaman hingga nantinya dewasa dan bisa untuk membedakan serta memutuskan sesuatu yang benar/salah dengan akal sehat dan hati nurani.

Ketika seorang anak mengalami pubertas, mungkin pertanyaan mendasar mulai terdapat dalam benak dan diri seorang anak. Semakin rasa ingin tahu yang hinggap didalam dirinya bagaikan seorang filsuf. Anak mulai ingin mengetahui siapa dirinya, untuk apa sesungguhnya mereka ada di dunia, sejatinya untuk apa mereka dilahirkan, dan pada kepada siapa mereka nantinya akan berpulang. Bahkan yang lebih fundamental adalah ketika seorang anak mempertanyakan kenapa mereka harus memiliki keyakinan yang sama seperti orang tuanya. Pernah dihantui pertanyaan seperti ini? Sudah ketemu jawabannya? Oke. Ini yang mau sedikit saya share. Bukan untuk maksud menggurui, tapi saya hanya ingin share pengalaman saya aja kepada kalian.

Ketika waktu kecil saya tidak pernah dikasih tau “kenapa” say harus mengikuti keyakinan orang tua. saya hanya diberi tahu apa, siapa, bagaimana, dimana.  Apa agamamu? Islam, Kristen, Hindu, dan Budha. Siapa Tuhanmu? Allah pada Islam. Bapak, Putra, Roh Kudus pada Kristen dan Para Dewa untuk Hindu dan Budha.  Dimana menjalankan ibadah? Masjid, Gereja, Pura, Wihara. Tapi tidak bernah diberitahu “kenapa”. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW, "Orangtualah yang pada awalnya menjadikan seorang anak itu beragama Islam, Nasrani, Majusi, atau Yahudi".  Sampai pada akhirnya saya mencoba untuk mencari sendiri jawaban dari setiap pertanyaan. Saya tidak ingin bertuhan sesuai dengan dogma dari orang tua, dokrin dari guru dan dari pengaruh lingkungan yang ada. Dengan pertanyaan yang ada, saya menjadi semakin mendalami agama. Saya meyakini bahwa Tuhan itu Esa [satu/tunggal]. Belum jauh saya mendalami agama yang saya yakini, saya sempat tidak yakin dengan agama yang saya peluk. Saya mempertanyakan kenapa agama yang saya yakini ini akrab sekali dengan yang namanya kekerasan bahkan teroris. Lalu saya mencoba untuk tidak hanya sekadar memeluk agama, tapi menyetubuhi (menjiwai) agama. Saya mencoba mempelajari beberapa agama lain. Tapi saya belum memutuskan untuk berpindah atau keluar dari agama saya. 

Pada dasarnya semua agama itu sama, yaitu sama-sama mengajarkan yang namanya kebaikan. Islam itu Indah, Kristen itu kasih, Budha itu Cinta dan Hindu itu Damai. Tapi lagi-lagi saya tetap meyakini bahwa Tuhan itu Esa. Saya tidak menemukan itu diketiga agama tersebut, selain agama dari keturunan saya (Islam). Allah. Tidak ada yang lain selain Allah. Dia sesungguhnya yang sempurna, pemelihara manusia, penguasa manusia, dan pencipta manusia, sesuai yang tekandung dalam surat An-Nas. Saya kembali untuk mempelajari lebih jauh, semakin menjiwai, semakin merasuk. Ternyata Islam adalah Mulia (Sempurna). Muslim adalah jalan menuju mulia. Islam sesungguhnya adalah memberi rahmat bagi Alam Semesta “rahmatan lil-aalamiina”. Mengajarkan untuk memuliakan manusia, mencintai alam semesta, dan isi dari alam semesta itu sendiri. Bukan hanya kepada sesama muslim saja. Seperti yang saya pelajari dari perkataan dari guru saya, “Islam itu bukan sekadar salat, puasa, zakat, haji, atau syariah, tapi Islam adalah jujur kepada manusia. Islam adalah cinta kepada manusia, Islam adalah keindahan. Jadi, kalau Anda mengaku Islam tapi tidak indah atau suka kekerasan, Anda belum tentu Islam”. Islam tidak hanya seperti yang diucapkan oleh Ustad di televisi, memperbincangkan betapa angker Islam, pahala dan dosa, surga dan neraka, halal dan haram. Tapi dengan Tauhid, Tasawuf dan Sufi Islam menjadi jauh lebih Indah. 

Tidak ada paksaan dalam beragama. Tidak seharusnya perbedaan pendapat dan perbedaan keyakinan memutuskan perkawanan. Apalagi, Allah menciptakan umat manusia berbeda-beda memang untuk saling mengenal dan bergaul. Terjawab sudah pertanyaan saya. Pastinya masih akan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain nantinya. Karena sesungguhnya manusia tidak akan pernah luput dari pertanyaan. Sekali lagi, ini tidak ada maksud untuk menggurui atau apapun. Maaf kalau ada yang tidak berkenan :).

Jadi sampai saat ini, Masihkah kau beragama sesuai agama keturunan? Masihkah kau bertuhan sesuai dogma orangtua, doktrin guru, atau pengaruh lingkungan? Mengapa kau tidak memulai sendiri perjalanan menemukan kesejatian hidup? Sebelum terlambat, kalian bisa memulainya dari sekarang dan meyakini apa yang benar-benar kalian yakini ;).

salam--

No comments: