Dalam
hidup, kita selalu disuguhi oleh pertanyaan-pertanyaan. Meski pada mulanya,
setiap manusia pada saat dilahirkan itu sama. Sama-sama tidak memiliki
pengetahuan, dan tidak memiliki pengalaman. Setiap manusia dilahirkan dari
orang tua [ayah-ibu]. Orang tua pada awalnya adalah seorang anak. Tapi seorang
anak belum tentu menjadi orang tua. Maka dari itu, agama mengajarkan untuk
selalu berbakti kepada orang tua, dengan mendoakannya dari doa anak yang
sholeh. Seorang anak dilahirkan dari rahim ibunya dengan keadaan yang tidak
bisa apa-apa. Lalu Tuhan memberikan pendengaran, pengelihatan, akal, dan hati.
Setelah itu orang tua memberikannya modal awal dengan cara kasih sayang,
pendidikan, pengajaran, pengalaman dan juga keyakinan. Hingga membuat seorang
anak itu berkembang. Seperti yang sudah kita tahu, pertumbuhan dan
perkembangan, anak bisa belajar dari keluarga, lingkungan, sekolah dan
pergaulan. Dengan pengetahuan seorang anak bisa mempelajari dan menabung
pengalaman-pengalaman hingga nantinya dewasa dan bisa untuk membedakan serta
memutuskan sesuatu yang benar/salah dengan akal sehat dan hati nurani.
Ketika
seorang anak mengalami pubertas, mungkin pertanyaan mendasar mulai terdapat
dalam benak dan diri seorang anak. Semakin rasa ingin tahu yang hinggap didalam
dirinya bagaikan seorang filsuf. Anak mulai ingin mengetahui siapa dirinya,
untuk apa sesungguhnya mereka ada di dunia, sejatinya untuk apa mereka
dilahirkan, dan pada kepada siapa mereka nantinya akan berpulang. Bahkan yang
lebih fundamental adalah ketika seorang anak mempertanyakan kenapa mereka harus
memiliki keyakinan yang sama seperti orang tuanya. Pernah dihantui pertanyaan
seperti ini? Sudah ketemu jawabannya? Oke. Ini yang mau sedikit saya share.
Bukan untuk maksud menggurui, tapi saya hanya ingin share pengalaman saya aja
kepada kalian.
Ketika
waktu kecil saya tidak pernah dikasih tau “kenapa” say harus mengikuti
keyakinan orang tua. saya hanya diberi tahu apa, siapa, bagaimana, dimana.
Apa agamamu? Islam, Kristen, Hindu, dan Budha. Siapa Tuhanmu? Allah pada
Islam. Bapak, Putra, Roh Kudus pada Kristen dan Para Dewa untuk Hindu dan
Budha. Dimana menjalankan ibadah? Masjid, Gereja, Pura, Wihara. Tapi
tidak bernah diberitahu “kenapa”. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW,
"Orangtualah yang pada awalnya menjadikan seorang anak itu beragama Islam,
Nasrani, Majusi, atau Yahudi". Sampai pada akhirnya saya mencoba
untuk mencari sendiri jawaban dari setiap pertanyaan. Saya tidak ingin bertuhan
sesuai dengan dogma dari orang tua, dokrin dari guru dan dari pengaruh
lingkungan yang ada. Dengan pertanyaan yang ada, saya menjadi semakin mendalami
agama. Saya meyakini bahwa Tuhan itu Esa [satu/tunggal]. Belum jauh saya
mendalami agama yang saya yakini, saya sempat tidak yakin dengan agama yang
saya peluk. Saya mempertanyakan kenapa agama yang saya yakini ini akrab sekali
dengan yang namanya kekerasan bahkan teroris. Lalu saya mencoba untuk tidak
hanya sekadar memeluk agama, tapi menyetubuhi (menjiwai) agama. Saya mencoba
mempelajari beberapa agama lain. Tapi saya belum memutuskan untuk berpindah
atau keluar dari agama saya.
Pada
dasarnya semua agama itu sama, yaitu sama-sama mengajarkan yang namanya
kebaikan. Islam itu Indah, Kristen itu kasih, Budha itu Cinta dan Hindu itu
Damai. Tapi lagi-lagi saya tetap meyakini bahwa Tuhan itu Esa. Saya tidak
menemukan itu diketiga agama tersebut, selain agama dari keturunan saya
(Islam). Allah. Tidak ada yang lain selain Allah. Dia sesungguhnya yang
sempurna, pemelihara manusia, penguasa manusia, dan pencipta manusia, sesuai
yang tekandung dalam surat An-Nas. Saya kembali untuk mempelajari lebih jauh,
semakin menjiwai, semakin merasuk. Ternyata Islam adalah Mulia (Sempurna).
Muslim adalah jalan menuju mulia. Islam sesungguhnya adalah memberi rahmat bagi
Alam Semesta “rahmatan lil-aalamiina”. Mengajarkan untuk memuliakan manusia,
mencintai alam semesta, dan isi dari alam semesta itu sendiri. Bukan hanya
kepada sesama muslim saja. Seperti yang saya pelajari dari perkataan dari guru
saya, “Islam itu bukan sekadar salat, puasa, zakat, haji, atau syariah, tapi
Islam adalah jujur kepada manusia. Islam adalah cinta kepada manusia, Islam
adalah keindahan. Jadi, kalau Anda mengaku Islam tapi tidak indah atau suka
kekerasan, Anda belum tentu Islam”. Islam tidak hanya seperti yang
diucapkan oleh Ustad di televisi, memperbincangkan betapa angker Islam, pahala
dan dosa, surga dan neraka, halal dan haram. Tapi dengan Tauhid, Tasawuf dan
Sufi Islam menjadi jauh lebih Indah.
Tidak
ada paksaan dalam beragama. Tidak seharusnya perbedaan pendapat dan perbedaan
keyakinan memutuskan perkawanan. Apalagi, Allah menciptakan umat manusia
berbeda-beda memang untuk saling mengenal dan bergaul. Terjawab sudah
pertanyaan saya. Pastinya masih akan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain
nantinya. Karena sesungguhnya manusia tidak akan pernah luput dari pertanyaan.
Sekali lagi, ini tidak ada maksud untuk menggurui atau apapun. Maaf kalau ada
yang tidak berkenan :).
Jadi
sampai saat ini, Masihkah kau beragama sesuai agama keturunan? Masihkah kau
bertuhan sesuai dogma orangtua, doktrin guru, atau pengaruh lingkungan? Mengapa
kau tidak memulai sendiri perjalanan menemukan kesejatian hidup? Sebelum
terlambat, kalian bisa memulainya dari sekarang dan meyakini apa yang
benar-benar kalian yakini ;).
salam--
No comments:
Post a Comment