Saturday, July 13, 2013

LOKANANTA: Harta Karun Musik Indonesia

 LOKANANTA; Harta Karun Musik Indonesia

(foto: koleksi pribadi)

Lokananta merupakan studio rekaman pertama di Indonesia milik pemerintah yang didirikan oleh R. Maladi pada tahun 1956. Tujuan dari didirikan Lokananta oleh R. Maladi adalah berawal untuk  kepentingan siaran RRI.  Radio Republik Indonesia yang tersebar di berbagai kota Indonesia, memiliki berbagai macam  lagu daerahnya masing-masing. Oleh karena itu R. Maladi berinisiatif untuk mendirikan Lokananta sebagai pusat tempat rekaman dan pengarsipan lagu-lagu daerah. Pada awalnya sebelum memiliki nama Lokananta, Lokananta memiliki nama ‘Indra Fox’. Indra merupakan singkatan dari kata Indonesia Raya dan fox diambil dari Bahasa Belanda. Namun  ketika nama Indra Fox diusulkan kepada Presiden Soekarno, nama tersebut tidak di setujui kerena tidak memiliki arti yang jelas. Kemudian nama Lokananta  dipilih dan diusulkan kembali kepada Presiden Soekarno. Lalu, beliaupun langsung menyetujui nama Lokananta. Lokananta memiliki arti “Gamelan dari kayangan yang bisa berbunyi sendiri tanpa penabuh”. Nama adalah doa! Konon katanya Gamelan Sri Kuncoro Mulyo yang dibuat pada zaman pangeran Diponogoro ini kerap berbunyi sendiri. Dipilihnya letak Lokananta di Kota Solo pun ternyata ada alasannya, ini dikarenakan Kota Solo yang merupakan Kota Kebudayaan Indonesia.

Kesuksesan R. Maladi mendirikan Lokananta ternyata bisa dibilang sangat sukses. Lokananta sebagai studio rekaman satu-satunya milik pemerintah dibawah naungan Departemen Penerangan Republik Indonesia pada saat itu menjadi pusat kebudayaan lagu-lagu daerah. Selain itu, Lokananta juga sebagai label rekaman besar yang banyak mencetak artis-artis lawas yang saat ini telah menjadi maestro, yaitu Waljinah, Gesang, Titik Puspa, Bing Slamet, Jack Lesmana, dll. Hingga saat ini, Lokananta masih menyimpan lebih dari 40.000 piringan hitam. Piringan hitam tersebut terdiri dari berbagai lagu-lagu daerah di Indonesia, pidato kenegaraan Presiden Soekarno, Proklamasi, hingga lagu Indonesia Raya 3 Stanza direkam di Lokananta. Studio rekaman dan peralatan yang ada di Lokananta juga masih menjadi jawara hingga saat ini. Akustik ruangan studio Lokananta bisa dibilang tidak ada tandingannya di Indonesia. Ruangan studio pun memiliki luas seukuran 2x lapangan futsal. Mixer TRIDENT buatan (London, Inggris) yang hanya ada 4 di dunia salah satunya terdapat di Lokananta. Mixer analog 32 channel ini, sampai sekarang masih berfungsi dengan cukup baik.
*****
Pada sekitar tahun 2000-an, semenjak Departemen Penerangan Republik Indonesia di likuidasi oleh pemerintah. Lokananta berada dibawah naungan Perum PNRI sebagai Perum PNRI cabang Surakarta (LOKANANTA). “Semenjak likuidasi DEPEN, pegawai Lokananta yang telah menjadi pegawai negri kembali ke induknya masing-masing dan pegawai yang bertahan di Lokananta saat ini adalah pegawai yang tersisa di jaman dulu”, ucap Titi pegawai Lokananta yang sudah berdedikasi selama 18 tahun di Lokananta. Jadi, meskipun Lokananta berada dibawah naungan perusahaan pemerintah, tetapi ternyata pegawai yang berada di Lokananta status kepegawaiannya bukan pegawai negri. Sangat membingungkan memang, ketika kita mengetahui bahwa Lokananta merupakan instansi dibawah naungan pemerintah, namun pada kenyataannya status kepegawaian para pegawai yang berada di Lokananta bukan seorang pegawai negri.

Lokananta sekarang bertahan. Biaya oprasional Lokananta saat ini lebih mandiri. Penjualan album dari produksi lagu-lagu lama kembali didistribusikan dengan bentuk kepingan CD dan pembayaran sewa lahan oleh pihak ke-3. Selain itu, lahan yang dulunya berfungsi sebagai gudang seng sekarang dialih fungsi sebagai lapangan futsal. Menurut Direktur Lokananta Pendi Heryadi dari hasil sewa lahan tersebut memberikan income yang cukup untuk biaya oprasional gaji pegawai saat ini.

Penyimpanan piringan hitam di Lokananta sebenarnya bisa dibilang kurang layak. Ruangan yang seharusnya terdapat pendingin udara (AC) untuk menjaga piringan hitam tidak berjamur, ternyata tidak terlihat di ruangan arsip. Agar suhu ruangan tetap terjaga, setiap harinya pegawai Lokananta hanya membuka-tutup jendela. Lalu menggunakan kopi bubuk dan kapur barus untuk menghilangkan bau lembab. Padahal, arsip ini merupakan identitas musik Indonesia. Indentitas kebudayaan Indonesia. Tapi pemerintah seolah tidak peduli dengan keadaan Lokananta sebagai aset berharga budaya bangsa.

*****
Lokananta seperti ayam kehilangan induknya. Ibarat kata seperti “Hidup Segan Matipun Tak Mau”. Tapi didalamnya ternyata Lokananta masih memiliki semangat. Masih terdapat pegawai yang dengan loyalitas tinggi mengabdikan dirinya untuk Lokananta. Menjaga aset berharga bangsa. Kita harus mengetahui sejarah [khususnya untuk musik Indonesia]. Lokananta merupakan rumah musik Indonesia. Akar musik Indonesia berawal dari Lokananta. Jangan sampai musik Indonesia menjadi yatim piatu yang tidak diketahui asal usulnya. Setidaknya dengan saya menulis tentang Lokananta. Untuk kalian yang tadinya tidak mengetahui darimana Musik Indonesia berasal, kalian menjadi tahu. Syukur kalau kalian bisa membantu untuk membangun kembali masa kejayaan Lokananta menjadi seperti dulu. Caranya? Dengan mempromosikan kembali aset budaya bangsa [Lokananta] ke dunia. Mengajak musisi-musisi muda melakukan rekaman atau sekadar berkunjung dan melihat gedung tua yang bersejarah bercerita dijamannya [Lokananta]. Ingat kata Bung Karno, “Never Leave History [Jangan Pernah Meninggalkan Sejarah!] Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai dan tidak pernah meninggalkan kebudayaannya”.

[artikel ini belom selesai sepenuhnya, nanti akan saya post versi lengkapnya ;D]

No comments: