LOKANANTA; Harta Karun Musik Indonesia
Lokananta merupakan
studio rekaman pertama di Indonesia milik pemerintah yang didirikan oleh R.
Maladi pada tahun 1956. Tujuan dari didirikan Lokananta oleh R. Maladi adalah
berawal untuk kepentingan siaran RRI. Radio Republik Indonesia yang tersebar di
berbagai kota Indonesia, memiliki berbagai macam lagu daerahnya masing-masing. Oleh karena itu
R. Maladi berinisiatif untuk mendirikan Lokananta sebagai pusat tempat rekaman
dan pengarsipan lagu-lagu daerah. Pada awalnya sebelum memiliki nama Lokananta,
Lokananta memiliki nama ‘Indra Fox’. Indra merupakan singkatan dari kata
Indonesia Raya dan fox diambil dari Bahasa Belanda. Namun ketika nama Indra Fox diusulkan kepada
Presiden Soekarno, nama tersebut tidak di setujui kerena tidak memiliki arti
yang jelas. Kemudian nama Lokananta
dipilih dan diusulkan kembali kepada Presiden Soekarno. Lalu, beliaupun
langsung menyetujui nama Lokananta. Lokananta memiliki arti “Gamelan dari
kayangan yang bisa berbunyi sendiri tanpa penabuh”. Nama adalah doa! Konon
katanya Gamelan Sri Kuncoro Mulyo yang dibuat pada zaman pangeran Diponogoro
ini kerap berbunyi sendiri. Dipilihnya letak Lokananta di Kota Solo pun
ternyata ada alasannya, ini dikarenakan Kota Solo yang merupakan Kota Kebudayaan
Indonesia.
Kesuksesan R. Maladi
mendirikan Lokananta ternyata bisa dibilang sangat sukses. Lokananta sebagai
studio rekaman satu-satunya milik pemerintah dibawah naungan Departemen
Penerangan Republik Indonesia pada saat itu menjadi pusat kebudayaan lagu-lagu
daerah. Selain itu, Lokananta juga sebagai label rekaman besar yang banyak
mencetak artis-artis lawas yang saat ini telah menjadi maestro, yaitu Waljinah,
Gesang, Titik Puspa, Bing Slamet, Jack Lesmana, dll. Hingga saat ini, Lokananta
masih menyimpan lebih dari 40.000 piringan hitam. Piringan hitam tersebut
terdiri dari berbagai lagu-lagu daerah di Indonesia, pidato kenegaraan Presiden
Soekarno, Proklamasi, hingga lagu Indonesia Raya 3 Stanza direkam di Lokananta.
Studio rekaman dan peralatan yang ada di Lokananta juga masih menjadi jawara
hingga saat ini. Akustik ruangan studio Lokananta bisa dibilang tidak ada
tandingannya di Indonesia. Ruangan studio pun memiliki luas seukuran 2x
lapangan futsal. Mixer TRIDENT buatan (London, Inggris) yang hanya ada 4 di
dunia salah satunya terdapat di Lokananta. Mixer analog 32 channel ini, sampai
sekarang masih berfungsi dengan cukup baik.
*****
Pada sekitar tahun 2000-an,
semenjak Departemen Penerangan Republik Indonesia di likuidasi oleh pemerintah.
Lokananta berada dibawah naungan Perum PNRI sebagai Perum PNRI cabang Surakarta
(LOKANANTA). “Semenjak likuidasi DEPEN, pegawai Lokananta yang telah menjadi
pegawai negri kembali ke induknya masing-masing dan pegawai yang bertahan di
Lokananta saat ini adalah pegawai yang tersisa di jaman dulu”, ucap Titi
pegawai Lokananta yang sudah berdedikasi selama 18 tahun di Lokananta. Jadi,
meskipun Lokananta berada dibawah naungan perusahaan pemerintah, tetapi ternyata
pegawai yang berada di Lokananta status kepegawaiannya bukan pegawai negri. Sangat
membingungkan memang, ketika kita mengetahui bahwa Lokananta merupakan instansi
dibawah naungan pemerintah, namun pada kenyataannya status kepegawaian para
pegawai yang berada di Lokananta bukan seorang pegawai negri.
Lokananta sekarang
bertahan. Biaya oprasional Lokananta saat ini lebih mandiri. Penjualan album
dari produksi lagu-lagu lama kembali didistribusikan dengan bentuk kepingan CD dan
pembayaran sewa lahan oleh pihak ke-3. Selain itu, lahan yang dulunya berfungsi
sebagai gudang seng sekarang dialih fungsi sebagai lapangan futsal. Menurut
Direktur Lokananta Pendi Heryadi dari hasil sewa lahan tersebut memberikan
income yang cukup untuk biaya oprasional gaji pegawai saat ini.
Penyimpanan piringan
hitam di Lokananta sebenarnya bisa dibilang kurang layak. Ruangan yang seharusnya
terdapat pendingin udara (AC) untuk menjaga piringan hitam tidak berjamur, ternyata
tidak terlihat di ruangan arsip. Agar suhu ruangan tetap terjaga, setiap
harinya pegawai Lokananta hanya membuka-tutup jendela. Lalu menggunakan kopi
bubuk dan kapur barus untuk menghilangkan bau lembab. Padahal, arsip ini
merupakan identitas musik Indonesia. Indentitas kebudayaan Indonesia. Tapi
pemerintah seolah tidak peduli dengan keadaan Lokananta sebagai aset berharga
budaya bangsa.
*****
Lokananta seperti ayam
kehilangan induknya. Ibarat kata seperti “Hidup Segan Matipun Tak Mau”. Tapi
didalamnya ternyata Lokananta masih memiliki semangat. Masih terdapat pegawai
yang dengan loyalitas tinggi mengabdikan dirinya untuk Lokananta. Menjaga aset
berharga bangsa. Kita harus mengetahui sejarah [khususnya untuk musik Indonesia].
Lokananta merupakan rumah musik Indonesia. Akar musik Indonesia berawal dari
Lokananta. Jangan sampai musik Indonesia menjadi yatim piatu yang tidak diketahui
asal usulnya. Setidaknya dengan saya menulis tentang Lokananta. Untuk kalian
yang tadinya tidak mengetahui darimana Musik Indonesia berasal, kalian menjadi tahu. Syukur
kalau kalian bisa membantu untuk membangun kembali masa kejayaan Lokananta
menjadi seperti dulu. Caranya? Dengan mempromosikan kembali aset budaya bangsa
[Lokananta] ke dunia. Mengajak musisi-musisi muda melakukan rekaman atau sekadar berkunjung dan melihat gedung tua yang bersejarah
bercerita dijamannya [Lokananta]. Ingat kata Bung Karno, “Never Leave History [Jangan
Pernah Meninggalkan Sejarah!] Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai dan tidak pernah meninggalkan
kebudayaannya”.
[artikel ini belom selesai sepenuhnya, nanti akan saya post versi lengkapnya ;D]
[artikel ini belom selesai sepenuhnya, nanti akan saya post versi lengkapnya ;D]

No comments:
Post a Comment