Tuesday, July 23, 2013

Memanusiakan Manusia, Memuliakan Sesama

Setiap manusia adalah mahluk, namun tidak setiap mahluk adalah manusia. Bahkan ada pula manusia yang belum menjadi manusia yang seutuhnya. Kita bisa belajar untuk memanusiakan manusia, memuliakan sesama. Manusia merupakan mahluk sosial. Manusia merupakan mahluk yang tidak bisa hidup sendiri. Bahkan untuk membenci seseorang pun kita harus membutuhkan orang lain untuk dibenci, begitupun sebaliknya, untuk mencintai seseorang kita pun harus membutuhkan orang lain yang harus kita cintai. Demi massa sesungguhnya manusia itu merugi. Maka dari itu, alangkah baiknya jika kita untuk selalu mencintai antar sesama. Bermanfaat dan berguna bagi sesama.

Pada waktu kecil saya pernah mempertanyakan bahwa kenapa manusia di dunia itu harus membeli tanah kepada pihak tertentu, padahal sejatinya tempat yang kita tinggali ini merupakan bumi Tuhan? Dari pertanyaan tersebut saya mencari jawabannya, saya belajar untuk memahami kehidupan. Saya belajar melalui pelajaran di sekolah, berdiskusi dengan teman atau siapapun itu yang bisa untuk diajak berdiskusi. Karena sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang lebih tahu diantara kita. Hanya lebih dahulu tahu, tidak kurang, tidak lebih. Siapapun adalah murid siapapun. Guru pada mulanya merupakan seorang murid. Namun, seorang murid pada akhirnya belum tentu bisa menjadi seorang guru.  Maka dari itulah guru adalah sebaik-baiknya murid, karena guru mampu menjaga dan memastikan ilmu untuk tetap bisa mengalir. Dan sebaik-baiknya guru adalah ia yang masih belajar bahkan kepada muridnya.

Kembali kepada pertanyaan saya diatas. Ketika saya belajar di sekolah, seorang guru menjelaskan kepada saya tentang fungsi negara didirikan. Ketika itu pula saya menemukan jawaban dari pertanyaan saya. Bahwa suatu negara berfungsi agar suatu wilayah itu bisa berkembang serta memakmurkan rakyatnya. Agar siklus perekomonian terus berputar dan negara tersebut bisa tetap bertahan. Negara melakukannya dengan cara mengambil pajak dari rakyat, memanfaatkan kekayaan alam untuk diolah, dan sebagainya. Alam dan manusia memang erat kaitannya. Manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa mahluk-mahluk yang mendukungnya. Akar dan batang tanpa air dan tanah, tiada berdaya. Daunan tanpa sinar matahari, layu dan mati. Bunga tanpa lebah, alur ekosistem terganggu dan bahkan terhenti. Seperti itulah kita berada di dunia. Saling membutuhkan satu sama lain.

Tapi pada kenyataannya kini, manusia seolah-olah tidak peduli kepada alam. Saya berpendapat bahwa Tuhan menciptakan manusia memang untuk merusak. Karena manusia untuk mengolah tambang minyak, manusia harus mengebor bumi terlebih dahulu. Menghasilkan kertas atau alat-alat property rumah, manusia harus menebang banyak pohon. Ekploitasi alam secara berlebihan terus dilakukan oleh manusia hingga saat ini. Manusia seolah tidak pernah puas akan materi untuk memperkaya diri sendiri. Mall, Apartment, hingga perumahan mewah semakin banyak dibangun tanpa memperdulikan wilayah lingkungan hijau dan sesama manusia disekitarnya. Manusia seolah tidak seperti manusia. Manusia bahkan kalah mulia dengan binatang. Jika binatang bisa berhenti dikala perut mereka telah kenyang, tapi manusia seakan-akan tidak pernah merasa kenyang untuk memperbesar perut mereka. Terus mengejar harta dan tahta tanpa pernah merasa cukup. Padahal Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk paling mulia dengan memberikan manusia akal budi. Bukan hanya merusak alam, manusia juga merusak dirinya sendiri. Manusia merusak dirinya sendiri dengan sifat-sifat iri, dengki, sirik, dll. Merusak. Membuat konflik dengan permusuhan. Kekerasan mengatasnamakan agama. Sifat yang bisa menimbulkan penyakit untuk dirinya sendiri.

Tetapi disini kita dapat terus belajar, bahwa dalam setiap keburukan pasti terdapat kebaikan. Kita harus terus belajar untuk bagaimana cara bisa menjadi manusia sutuhnya. Memanusiakan manusia, memuliakan sesama.  Karena, sebaik-baik manusia adalah sesiapa yang memberikan manfaat kepada sesamanya. Dan, sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi sesamanya adalah ia yang tidak pernah merasa perlu untuk merasa berjasa, ia yang berbuat baik bukan untuk membuat orang lain merasa berhutang budi, dan ia yang tidak menuntut balas budi dari apa yang telah dilakukannya. Berderma untuk mengharapkan pahala memang baik, tapi jauh lebih baik lagi jika kita berderma karena kebaikan peduli antar sesama.  Kebaikan mengabadi sebagai kebaikan jika dan hanya diterima dengan baik pula, bukan dengan buruk dan merusak. Kebaikan terancam berubah menjadi keburukan jika diterima dengan buruk dan untuk merusak. Kita tetap bisa belajar dari kebaikan maupun keburukan untuk tumbuh arif dan bijak. Dari keburukan, kita belajar untuk menjadi baik. Dari kebaikan, kita belajar untuk menjadi lebih baik. Terimalah kebaikan dan keburukan dengan baik, jangan memperburuk keadaan. Jadi, jangan pernah merasa kesal ketika kita merasa ada orang yang hanya membutuhkan kita hanya disaat mereka perlu saja. Karena memang sudah kodrat kita diciptakan sebagai manusia adalah untuk bisa terus bermanfaat kepada sesama.

Apakah kita sudah menjadi manusia yang seutuhnya? Yuk, mari kita bercermin bersama dengan sama-sama mawas diri. Agar kita bisa menjadi manusia yang seutuhnya, manusia yang memanusiakan manusia, manusia yang memulikan sesama.

Salam--


No comments: