Setiap manusia adalah mahluk,
namun tidak setiap mahluk adalah manusia. Bahkan ada pula manusia yang belum
menjadi manusia yang seutuhnya. Kita bisa belajar untuk memanusiakan manusia,
memuliakan sesama. Manusia merupakan mahluk sosial. Manusia merupakan mahluk
yang tidak bisa hidup sendiri. Bahkan untuk membenci seseorang pun kita harus
membutuhkan orang lain untuk dibenci, begitupun sebaliknya, untuk mencintai seseorang
kita pun harus membutuhkan orang lain yang harus kita cintai. Demi massa
sesungguhnya manusia itu merugi. Maka dari itu, alangkah baiknya jika kita
untuk selalu mencintai antar sesama. Bermanfaat dan berguna bagi sesama.
Pada waktu kecil saya pernah
mempertanyakan bahwa kenapa manusia di dunia itu harus membeli tanah kepada
pihak tertentu, padahal sejatinya tempat yang kita tinggali ini merupakan bumi
Tuhan? Dari pertanyaan tersebut saya mencari jawabannya, saya belajar untuk
memahami kehidupan. Saya belajar melalui pelajaran di sekolah, berdiskusi
dengan teman atau siapapun itu yang bisa untuk diajak berdiskusi. Karena sesungguhnya
di dunia ini tidak ada yang lebih tahu diantara kita. Hanya lebih dahulu tahu, tidak
kurang, tidak lebih. Siapapun adalah murid siapapun. Guru pada mulanya
merupakan seorang murid. Namun, seorang murid pada akhirnya belum tentu bisa
menjadi seorang guru. Maka dari itulah
guru adalah sebaik-baiknya murid, karena guru mampu menjaga dan memastikan ilmu
untuk tetap bisa mengalir. Dan sebaik-baiknya guru adalah ia yang masih belajar
bahkan kepada muridnya.
Kembali kepada pertanyaan saya
diatas. Ketika saya belajar di sekolah, seorang guru menjelaskan kepada saya
tentang fungsi negara didirikan. Ketika itu pula saya menemukan jawaban dari
pertanyaan saya. Bahwa suatu negara berfungsi agar suatu wilayah itu bisa berkembang
serta memakmurkan rakyatnya. Agar siklus perekomonian terus berputar dan negara
tersebut bisa tetap bertahan. Negara melakukannya dengan cara mengambil pajak
dari rakyat, memanfaatkan kekayaan alam untuk diolah, dan sebagainya. Alam dan
manusia memang erat kaitannya. Manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa mahluk-mahluk
yang mendukungnya. Akar dan batang tanpa air dan tanah, tiada berdaya. Daunan
tanpa sinar matahari, layu dan mati. Bunga tanpa lebah, alur ekosistem
terganggu dan bahkan terhenti. Seperti itulah kita berada di dunia. Saling
membutuhkan satu sama lain.
Tapi pada kenyataannya kini,
manusia seolah-olah tidak peduli kepada alam. Saya berpendapat bahwa Tuhan
menciptakan manusia memang untuk merusak. Karena manusia untuk mengolah tambang
minyak, manusia harus mengebor bumi terlebih dahulu. Menghasilkan kertas atau
alat-alat property rumah, manusia harus menebang banyak pohon. Ekploitasi alam
secara berlebihan terus dilakukan oleh manusia hingga saat ini. Manusia seolah
tidak pernah puas akan materi untuk memperkaya diri sendiri. Mall, Apartment,
hingga perumahan mewah semakin banyak dibangun tanpa memperdulikan wilayah
lingkungan hijau dan sesama manusia disekitarnya. Manusia seolah tidak seperti
manusia. Manusia bahkan kalah mulia dengan binatang. Jika binatang bisa
berhenti dikala perut mereka telah kenyang, tapi manusia seakan-akan tidak
pernah merasa kenyang untuk memperbesar perut mereka. Terus mengejar harta dan
tahta tanpa pernah merasa cukup. Padahal Tuhan menciptakan manusia sebagai
mahluk paling mulia dengan memberikan manusia akal budi. Bukan hanya merusak
alam, manusia juga merusak dirinya sendiri. Manusia merusak dirinya sendiri
dengan sifat-sifat iri, dengki, sirik, dll. Merusak. Membuat konflik dengan
permusuhan. Kekerasan mengatasnamakan agama. Sifat yang bisa menimbulkan
penyakit untuk dirinya sendiri.
Tetapi disini kita dapat terus belajar,
bahwa dalam setiap keburukan pasti terdapat kebaikan. Kita harus terus belajar
untuk bagaimana cara bisa menjadi manusia sutuhnya. Memanusiakan manusia,
memuliakan sesama. Karena, sebaik-baik manusia adalah sesiapa yang
memberikan manfaat kepada sesamanya. Dan, sebaik-baik manusia yang bermanfaat
bagi sesamanya adalah ia yang tidak pernah merasa perlu untuk merasa berjasa,
ia yang berbuat baik bukan untuk membuat orang lain merasa berhutang budi, dan
ia yang tidak menuntut balas budi dari apa yang telah dilakukannya. Berderma
untuk mengharapkan pahala memang baik, tapi jauh lebih baik lagi jika kita
berderma karena kebaikan peduli antar sesama. Kebaikan mengabadi sebagai
kebaikan jika dan hanya diterima dengan baik pula, bukan dengan buruk dan
merusak. Kebaikan terancam berubah menjadi keburukan jika diterima dengan buruk
dan untuk merusak. Kita tetap bisa belajar dari kebaikan maupun keburukan untuk
tumbuh arif dan bijak. Dari keburukan, kita belajar untuk menjadi baik. Dari
kebaikan, kita belajar untuk menjadi lebih baik. Terimalah kebaikan dan
keburukan dengan baik, jangan memperburuk keadaan. Jadi, jangan pernah merasa kesal
ketika kita merasa ada orang yang hanya membutuhkan kita hanya disaat mereka
perlu saja. Karena memang sudah kodrat kita diciptakan sebagai manusia adalah
untuk bisa terus bermanfaat kepada sesama.
Apakah kita sudah menjadi manusia
yang seutuhnya? Yuk, mari kita bercermin bersama dengan sama-sama mawas diri. Agar
kita bisa menjadi manusia yang seutuhnya, manusia yang memanusiakan manusia,
manusia yang memulikan sesama.
Salam--
No comments:
Post a Comment