Saturday, September 28, 2013

Selamat 28, September.

Selamat 28, Septermber.
Saat ini adalah hari dimana saya dilahirkan, hari dimana saya merasakan kefanaan di dunia keluar dari rahim seorang ibu yang sebelumnya mengalami proses yang cukup lama. Terimakasih, Ibu, Ibu, Ibu, Ayah.

Menurut saya, tidak ada yang harus dirayakan untuk bertambahnya usia. Kita hanya harus menghargainya. Biasanya saya menghargai hari kelahiran dengan perenungan dan nyepi. Ini adalah saat dimana saya semakin gelisah untuk menjalani hidup. Semakin merasakan tanggung jawab dalam menjalani hidup. Bertambahnya usia yang semakin tua atau pemikiran yang tidak bisa menjadi dewasa bukanlah suatu masalah. Tetapi yang menjadi masalah adalah berpikir jika hidup saya tidak bermanfaat untuk sesama. Dan itu yang sering ada dalam hidup saya. Saya tidak tahu sisa umur saya berapa. Tetapi, hidup berbicara tentang perjuangan. Berarti sudah cukup lama saya untuk merasakan hidup. Setelah melewati usia belasan, sekarang saya mulai untuk memasuki usia puluhan. Dan ini merupakan awal dari saya untuk merasakan usia puluhan. Merasakan awal dari kehidupan mulai dari fase Nol kembali.

Saya percaya bahwa Nol adalah awal untuk kita ketahap berikutnya mulai dari awal kembali. Menurut saya, 0-10 merupakan masa kecil, 10-20 merupakan masa remaja, 20-30 masuk kedalam masa dewasa hingga kematangan, 30-40 berada sampai di usia matang, 40-50 masuk kedalam usia matang menuju usia tua kita, 50-60 saat dimana kita harusnya semakin merindukan kepada yang menciptakan kita menjadi manusia seutuhnya. Lebih dari usia tersebut itu adalah bonus untuk kita lebih menikmati kehidupan. Kita mempunyai lima tahapan dalam hidup. Tapi saya hanya membagi menjadi empat bagian: Remaja, Dewasa, Matang, Tua. Karena masa kecil (anak-anak) merupakan masa pembentukan diri kita, belum seutuhnya mengetahui kehidupan. Atau dalam bahasa agama disebut dengan akil-baligh. Selain itu, empat bagian ini pun saya ambil dalam karakter diri dalam tokoh pewayangan Punakawan, yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.

Lagi, menurut saya kita harus menanamkan diri Punakawan dalam diri yang terdiri dari Cipta, Rasa, Karsa, dan Karya. Pada usia remaja kita memasuki proses Cipta (pemikiran dan akal), dewasa kita memasuki proses Rasa (memakai hasil pemikiran dan akal dengan perasaan), Karsa adalah tahap dimana kita memasuki usia matang (niat dan kemauan), dan sampai pada puncaknya Karya (pencapaian dari Cipta, Rasa, dan Karsa menjadi sesuatu yang menghasilkan). Atau jika ingin menemukan siapa diri kita dari dalam. Kita harus melalui jalan yang sepi, menuju jalan yang sunyi, lalu menuju ke jalan hening, hingga sampai pada akhirnya mencapai jalan suwung. Jalan sepi adalah jalan menyendiri dan jauh dari keramaian rame ing sepi, disini pemikiran dan akal diolah. Menuju kedalam jalan hening atau sunyi dengan kembali ke keramaian rame ing rame, maka disini rasa akan diasah dengan keseharian. Lalu, kita melalui jalan hening yang dimana kita menyepi dalam keramaian sepi ing rame. Hingga pada akhirnya kita menempuh jalan suwung, dimana sepi dan ramai tidak ada bedanya. Mencipta disemua keadaan. Berkarya sepanjang masa. Tetapi, semua ini tidak harus terpatok pada usia yang saya sebut diatas. Jika Anda baru mengetahui pelajaran yang seperti ini dan ingin mengetahui kesejatian diri, bisa memulai dari awal. J

Pada waktu SMP atau proses setelah saya mengalami masa kecil, saya mengalami proses awal kegelisahan dalam diri. Kegelisahan disini bukan berarti galau. Menurut saya, kegelisahan adalah suatu keresahan yang mimiliki poros, tetapi kalau galau itu tidak. Dalam kegelisahan saya mulai mempertanyakan siapa sesungguhnya diri saya. Mempelajari asal muasal diri saya (asal muasal perwujudan diri saya). Darimana saya diciptakan, untuk apa, dan nanti akan kembali kemana setelah saya mati. “Karena sesungguhnya sesuatu yang hidup sudah pasti akan mati, tetapi yang mati belum tentu akan dimatikan”. Pertanyaan demi pertanyaan muncul dari akal pemikiran saya. Dengan awal kegelisahan tersebut, saya mengalami yang namanya proses berkembang. Saya mencoba berkembang dengan diri saya sendiri. Mencari tahu rahasia (jawaban) dari setiap pertanyaan. Dan pertanyaan sudah membuat saya menjadi berkembang. Dalam hidup pertanyaan bagaikan batu bata yang dibangun untuk menjadi suatu rumah. Disusun sekian banyak dan sedemikian rupa hingga rumah tersebut itu jadi. Pertanyaan juga suatu proses pembelajaran kita. Untuk itu mengapa dalam hidup kita diharuskan untuk selalu belajar. Apapun, dimanapun, kapanpun, oleh siapapun, dan dengan cara bagaimanapun. 

Sejak SMA saya juga mulai mempertanyakan kesejatian hidup. Saya mulai merindukan yang namanya kematian. Merindukan pencipta saya. Saya bukan orang yang takut untuk mati. Saya merupakan orang yang takut untuk hidup di dunia. Tapi dunia juga telah mengajarkan saya untuk berkelana dalam hidup. Berserah. Mencari keseimbangan dalam diri. Mengisi ketiadaan dalam diri. Meyakini diri dalam diri sendiri. Belajar. Diskusi. Tidak untuk sukses. Tidak untuk bahagia. Toh nanti juga kita akan mati. Selain itu, sejauh ini saya pun masih belum mendapatkan makna dari sukses dunia yang seungguhnya/kesejatian, begitupun bahagia. Karena yang saya dapat di dunia hanyalah kegembiraan dan kesenangan semata. Sedangkan yang saya cari adalah bahagia yang sejati. Mungkin ini bisa menjadi bahan pembelajaran saya selanjutnya. Tetapi sesungguhnya bukannya hidup di dunia ini hanya senda gurau belaka? Ya, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau [QS Muhammad [47]:36]. Hidup adalah permainan sandiwara. Didalamnya terdapat kisah, babak, plot, adegan, skenario, karakter dan ide. Dia yang menjadi Sutradara, yaitu empunya ide. Dia menghidupkan karakter. Dari karakter muncul skenario, yang sedari-mula telah dituliskan. Tiap aktor atau aktris adalah perwujudan dari karakter yang kisah hidupnya dalam babak demi babak telah ditentukan dalam plot atau alurnya. Sesempurna mungkin ditiap adegan dan tidak mungkin keluar dari skenario. Matilah sandiwara, kisah, babak, plot, adegan dan skenario jika Sutradara menghendaki. Berubah plot jika Sutradara menghendaki. Namun Ide tidak akan pernah mati. Ia hidup sejak bermula hidup. Hidup yang tidak berakhir.

Saya menyadari bahwa saya terlahir sebagai janin sendiri-bukan berarti tanpa bantuan dan pertolongan orang lain-maka nanti menjadi mayat pun sendiri. Hingga sekarang saya menganggap diri saya di dunia ini tidak ada. Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, tidak mempunyai apa-apa untuk dunia. Tetapi apa-apa yang ada hanyalah Dia, Allah Yang Maha Ada. Meski tidak tampak, sesungguhnya Ada-Nya ada. Seperti angka yang dimulai dari 1-9, Dia adalah 0. Tidak berada didalam, tidak berada diluar dari angka. Seperti saya yang tidak bisa melihat telinga, jantung, paru-paru dan semua organ yang berada didalam diri saya atau tidak tampak di dalam saya sendiri, saya meyakini Ada-Nya. Karena buktinya saya bisa mendengar, bernafas, dan hidup. Seperti agama Islam yang berkedudukan sebagai agama penyempurna dari semua agama. Saya pun ingin menjadi penyempurna untuk semesta dan diri saya. Penyempurna harus ada yang disempurnakan, pun sebaliknya. Jika tidak ada yang disempurnakan lalu apa fungsi penyempurna. Penyempurna pun bukan berarti paling sempurna. Maka dari itu Islam tidak berdiri sendiri, saling menguatkan dengan agama-agama lain. Begitupun hidup dan diri saya. Selain dengan orang-orang yang berada disekitar saya sebagai penyempurna untuk diri saya. Pemberdayaan akal, hati, dan pemikiran saya tetap harus disempurnakan. Jasmani-rohani dan raga-jiwa harus seimbang agar saling menguatkan. Bukan hanya raga yang harus diolah. Begitupun hati, rasa dan ilmu juga perlu untuk diolah.

Nol adalah awal dari segalanya. Saya dalam proses untuk mencoba bunuh diri. Bunuh diri bukan berarti membunuh diri (raga). Tetapi membunuh segala rasa penyakit hati (sirik, dengki, iri, dendam, munafik, dusta, dsb) untuk menjadi terlahir kembali. Berkenala kembali dari titik nol di tahap berikutnya.  Menjadi manusia yang berbudaya-manusia yang mengambil suatu makna- bukan manusia pragmatis-manusia realistis yang mengambil nilai guna- dalam hidup di dunia. Mungkin dengan ini saya bisa menemukan bahagia yang sejati sebelum berlanjut untuk mencapai Kesadaran asal-muasal kejadian. Lalu Menemukan Cahaya. Cahaya di atas Cahaya. Semoga.

Tidak untuk bermaksud untuk menggurui, tetapi saya disini hanya berbagi bagaimana saya belajar. Bersyukur jika bermanfaat. Tidak pun tidak apa-apa. Tidak ada paksaan. Maafkan segala kesalahan saya dalam berkata.
Salam--