Tuesday, October 13, 2009

Berawal dari DORKS sekarang menjadi APWG

APWG (Andi Pee Wee Gayskin) sekarang telah banyak beredar di berbagai kota dari mulai APWG Pusat (Jakarta) , Surabaya, Bogor dan kota-kota besar lainnya.

Ini salah satu curhatan seorang APWG yang gwh dapet dari blog tetangga yang ternyata dia ilfill dengan tampang belagu personel-personel Pee Wee Gayskin.

Jadi begini Ceritanya ....

“Grrr jadi ceritanya sekolah ane pas ada pensi mau ngundang Peewee kan berubung ane termasuk dalam osis SMA ane mutusin ngundang Peewee Gaskins jujur tadinya ane pas denger lagunya enak gan dan ane pernah suka ama nih band sebelum tau kalau personilnya udah kayak tai songongnya Terutama si Sansan,jadi ceritanya pas dia diundang ke SMA ane di Tangerang pertama kita disuruh siapin Dp sekiat 5-6 jutaan lah ane lupa gan,waktu hari H nya pas mau nyanyi gara2 temen2 ane pada gak merhatiin Peewee Si Sansan langsung nyopot gitar dan teriak pake mic katanya”Pliss deh kita diundang disini bukan buat dicuekin pliss dengerin lagu kita”,ane dan temen ane rame2 langsung ninggalin panggung gan ane enek banget nih band mau muntah serasa ane,udah gayanya kayak Maho lagi betul betul bikin enek gan terutama Sansan ama Dochi gayanya itu loh!!! ,Minta dipukul banget gan ,Band Kampung aja banyak gaya dasar Maho,
Maka dari itu ane mutusin ane adalah: APWG = Anti Pee Wee gaskins

Itu merupakan salah satu curhatan seorang yang ilfill dengan tampang personel Pee Wee Gayskin.

Kalau gwh sendiri dulu emang senang dengan lagu-lagu maupun personel Pee Wee saat dia masih belum terkenal seperti sekarang. Memang gwh akuin memang personel Pee Wee yang belagu itu "gwh kira cuman gwh doank yang berpendapar kaya gt, eh gk taunya kebanyakan orang juga berpendapat seperti gwh". Dan sejak itulah gwh menjadi seorang APWG sama seperti cerita yang di atas.

Inilah blog APWG http://antipeeweegaskins.co.cc/

Thursday, April 9, 2009

Apa sih pop punk tuh??

Pop punk sekarang telah sering menghiasi musik-musik anak remaja di Indonesia. Kebanyakan aliran ini sering di pakai oleh band-band dari kalangan indie lebel. Sebut saja grup band dari bandung yaitu Alone At Last dan Rocket Rockers. Band tersebut sedikit mengambil genre musik pop punk untuk menghiasi musik mereka. Memang benar kalau musik punk itu gak pernah mati atau "punk not dead". Genre aliran pop punk ini bisa di sebut sebagai salah satu genre turunan atau perkembangan jaman dari musik punk. Yah kalau bisa di bilang mah pop punk itu anak dari aliran musik punk rock atau cucu dari aliran musik rock n roll yang di hadirkan dari generasi 1950 akhir sampai 1960an.

Terlahirnya aliran pop punk sebenarnya lterjadi lewat 2 gelombang. Yang pertama terjadi dari suksesnya band-band amerika seperti Blink 182, Green Day, dan The Offspring. Dari semua band tersebut mereka memiliki kesamaan bermusik dari paduan suara gitar yang keras, lirik yang sederhana dan melodi yang disukai oleh semua kalangan.

Jika dalam genre lain harmoni teramat penting tapi tidak untuk genre musik pop punk ini. Bangunan dari genre musik ini terdiri dari banyaknya "gunung" dan "lembah", jadi para pendengar musik pop punk ini menjadi terhanyut dalam emotional.

Suasana musik ini yaitu pada bagian intro dan awal berharmoni lambat dan tenang tiba-tiba berubah menjadi beat cepat dan tidak karuan, lalu kembali menjadi bertempo lambat dan tenang dan seterusnya bagaimana kreativitas mereka bermusik saja dan sampai berhenti dan selesai lagu tersebut di nyanyikan.

Musik pop punk merupakan revitalisasi dari kekuatan jenis musik rock n roll, dan buat penggemarnya genre ini dapat menimbulkan energi tertentu.

Wednesday, April 8, 2009

Emo ??

Emo merupakan salah satu genre musik yang masih serumpun dengan punk. Emo sendiri diambil dari kata emotion atau emotonal. Musik Emo sendiri biasanya berlirik tentang puitis, di tinggalkan kekasih, kematian, kegembiraan, ataupun sebagainya kalau kata gweh mah sih itu mah gimana kreativenya lu aja dalam membuat lirik.

Band-band luar negeri yang beraliran Emo sendir cukup banyak yaitu Story Of The Years, The Used, Rufio, Silverstein, Alesana, dan msh banya lagi ( males gweh ngebutinnya satu-satu mah ) hhehe. Tapi kebanyakan band tersebut tidak mau kalau bandnya beraliran Emo mereka lebih senang kalau band mereka beraliran pop punk, punk rok, atau rock alternative.

Band-band Emo sendiri biasanya benyak menggunakan suara-suara gitar yang lebih kompleks namun jaga ada dari mereka yag hanya menggunakan gitar akustik saja dalam lagu mereka. Kalau kita bandingkan dengan musik punk musik Emo lebih memiliki cir khas sendiri yaitu tempo yang lebih lambat dari pada musik punk, ciri khas yang lain juga yang ada di musik Emo adalah terdapat sedikit suara scream atau growl dari sang vokalis untuk lebih memunjukan soul emotional dalam musik atau lagu yang di bawakan oleh mereka.

Ada juga band yang beraliran Emocore pasti orang menyangka kalau aliran tersebut sama saja tapi ternyata aliran tersebut berbeda. Apa itu Emocore? Emocore adalah perpaduan antara musik punk dengan hardcore jadi Emocore. Dalam segi musikalitas juga memang sulit dibedakan antara keduanya karena jujur gweh sendiri juga bingung bagaimana cara membedakan antara Emo dengan Emocore. Mungkin anda dapat membedakannya sendiri !! Tidak hanya Emo dengan Emocore tetapi membedakan aliran musik antara Emo, punk rock, pop punk, dengan hardcore sendiri pun cukup sulit. Itu semua mungkin dari kebiasaan band tersebut yang tidak hanya membawakan satu aliran musik saja, tetapi mungkin karena band tersebut sudah terikat dengan image tersebut jadi jika dia membawakan aliran musik yang hampir sama jenis musiknya orang-orang pun mungkin di buat bingung dengan aliran musik yang dia mainkan. Salah satu contoh band luar negeri yang beraliran Emocore adalah Saosin dan A Static Lulaby, mereka adalah salah satu band dai sekian banyaknya band aliran Emocore yang ada di luar sana.

Apa ada band Emo di Indonesia? Ada, salah satunya adalah band asal bandung yaitu Disconnected dan Buckskin Bugle, dan di Bogor sendiri ada Full Of Envious dan masih banyak lagi band yang beraliran musik Emo di Indonesia ini. Biasanya band-band tersebut adalah band indie lebel yang masih kental dengan aliran Emo.

Style Emo sendiri sekarang telah menjadi Trend di remaja-remaja di Indonesia maupun Luar negeri seperti saja anak-anak di Amerika yang disebut emo fag, rata-rata dari mereka bilang kalau Emo telah menjadi gaya hidup mereka. Di Indonesia banyak yang meniru style dari band-band luar baik dari dandanan, rambut, pakaian, dll.


*odie balzar*

Tuesday, April 7, 2009

Alone At Last

Oke ...
Setelah dari RORO ( Rocket Rockers ) gweh di sini mau menceritakan band indie dari bandung juga yaitu Alone At Last..






Alone At Last (AAL) adalah salah satu band indie yang cukup luar biasa karirnya, AAL adalah band punk rock yang telah menjelma menjadi band besar di bandung. AAL sendiri baru mengemas 1 EP dan 1 Album. Sebelumnya gweh akan memperkenalkan personel dari AAL itu sendiri yaitu sang vokalis mereka adalah Yas, di gitar ada Ucay, Ubey di bass, dan Athink di drum.

AAL sendiri didirikan pada tahun 2004 oleh Athink dan Bahe sang gitaris yang akhirnya mengundurkan diri di tahun 2007. AAL pun telah memiliki banyak fans pada saat itu, pada saat pertengahan 2006 AAL membuat EP perdananya yang berjudul "Sendiri VS Dunia" di EP tersebut AAL megisikan 6 buah lagu yang semuanya menjadi hits saat itu. Sebut aja Amarah, Senyum, dan Air Mata, Kisah Jejak Terhina, dan Mainstream of Love. Semua itu AAL berdiri di bawah naungan Absolute Records.

Dan di tahun 2007 AAL merilis album perdananya yang berjudul "Jiwa" berisikan 13 buah lagu. Singel pertama dari album tersebut adalah Muak untuk Memuja. Di album ini pula cukup banyak perubahan yang terdengar salah satunya adalah dari cara Yas bernyanyi dan melodi gitar yang cukup variatif yang dimainkan oleh sang gitaris. Album ini juga mengikut sertakan musisi lokal seperti Teguh dari Right Eighty Eight yang ikut bernyanyi di lagu Jiwa, dan Adi Gembel yang menyumbang screaming untuk lagu Gadis Kecil Berbisa.

Mungkin para penggemar AAL pun cukup puas dengan album perdananya ALL. Contohnya adalah dari 4000 kaset dan 2000 CD yang diproduksi oleh AAL, saat ini kesemuanya sudah ludes terjual alias sold out. Tapi buat para penggemar AAL yang blum kebagian gk usah khawatir soalnya AAL akan memproduksi lagi kaset maupun CD yang telah terjual ludes tadi.

Kapan yah AAL melakukan launching album perdananya? Kita liat aja nanti. oke.

*odie balzar*

Monday, April 6, 2009

Perjalanan Rocket Rockers


ROCKET ROCKERS mungkin namanya tidak asing jika anda sering berada atau pecinta band indie lebel. Rocket Rocker sendiri berdiri di tahun 1998, saat itu belum bernama Rocket Rockers seperti yang kalian kenal seperti saat ini tapi nama band mereka adalah Immorality President. Immorality President saat itu dengan formasi awal Firman (vocal/guitar), Aska (vocal/guitar), Bisma (bass), Doni (drums).

Lalu di tahun 1999 mereka baru meresmikan namanya menjadi Rocket Rockers setelah
Firman (vocal/guitar) keluar dari Immorality President. Setelah Firman (vocal/guitar) karena ada salah satu hal Immorality President merekrut Al a.k.a Ucay untuk gabung di Immorality President. Namun nama band itu tidak berlangsung lama, sampai akhirnya Ucay mengusulkan nama Rocket Rockers sebagai penggantinya.

Pada tahun 2000 rocket rockers mendapat giliran album komilasi pertamanya
dari bonus CD majalah Fallen Angel bersama Poison The Well, Strung Out, Not Available, Step Forward. Setelah itu RORO mulai manggung di acara pensi SMA maupun acara kolektif.

Pada tahun 2001
Rocket Rockers menjadi salah satu band pembuka konser Skin Of Tears (band punk asal Jerman) di teater terbuka Dago Tea House bersama Kuro!, Stadium 12 dan No Label. Di tahun itu juga RORO mendapat kontrak endorsement dengan Volcom dan Electric Sun Glasses di saat itu pula RORO sering manggung di acara skate.

Di tahun 2002 RORO mengeluarkan album pertama mereka yang berjudul
“Soundtrack For Your Life” di bawah naungan OffTheRecords. lbum tersebut mencapai penjualan 15.000 copies lebih. Sampai suatu saat, single lagu “Finishkan” menjadi No.1 beberapa minggu di chart indie Radio Prambors. Beberapa media masa juga memprekdiksikan RORO akan menjadi “The Next Big Thing” bersama SID, The White Stripes, The Hives dan The Vines.

Di tahun 2003
juga Rocket Rockers sempat menjadi cameo dan pengisi scoring di film “Cinta 24 Karat” karya Richard Buntario. Di tahun yang sama, Doni (drummer) keluar dari Rocket Rockers dan digantikan oleh Ozom.

Di Tahun 2004
Di awal tahun ini Rocket Rockers di kontrak oleh Sony Music dan melahirkan album ke 2 “Ras Bebas” di tahun 2004. Album tersebut laris 20.000 copies dibulan pertama edar. Rocket Rockers di tahun 2004 telah membuat 3 video klip yang tayang di MTV, diataranya: “Bangkit”, “K.L.A.S.S.I.X” dan “Pesta”.

Di tahun 2006
Rocket Rockers tahun ini berhasil membuat sejarah baru sebagai satu-satunya band Indonesia yang masuk ke dalam sebuah film dokumenter punk se-dunia “PUNK’S NOT DEAD THE MOVIE: A Revolution 30 Years In the Making”. Film yang disutradarai oleh Susan Dynner tersebut menelusuri perkembangan dan eksistensi punk rockn selama 30 tahun. Susan Dynner dalam film tersebut mencoba untuk menggambarkann betapa besarnya kultur punk di dunia. Ide awalnya ketika Susan menonton sebuah acara reuni akbar band-band punk tua sampai yang muda dengan sponsor LEVI’S. Akhirnya tercetuslah ide untuk membuat PUNK’S NOT DEAD THE MOVIE. Film tersebut menuai pujian dari festival seperti The Copenhagen International Documentary Film Festival, Melbourne International Film Festival, Buenos Aires Film Festival, San Francisco International Film Fastival hingga Cannes Film Festival. Band-band dan artis yang terlibat didalamnya: NOFX, Sex Pistols, Minor Threat, Black Flag, The Ramones, Dead Kennedys, Rancid, Greenday hingga band-band masa kini seperti My Chemical Romance, The Used, Thrice, SUM 41, Good Charlotte, Story Of The Years. Juga interview beberapa tokoh penting punk lainnya. Rocket Rockers menjadi bagian dari rentetan band tersebut, adalah sesuatu yang sangat membanggakan. Di tahun ini juga RORO menggarap album ke 3 yang berjudul "Better Season". 3 lagu Rocket Rockers menyebar hand to hand, hardisk to hardisk diluar kuasa Rocket Rockers. Lagu yang menyebar masih hasil mixing dan belum di mastering. Entah siapa yang menyebarkannya. Alhasil, materi lagu Rocket Rockers sudah menyebar ke pelosok nusantara. Requestpun membludak di mana2.

Di tahun 2007 RORO memutuskan kontraknya pleh SONY-BMG dikarenakan tidak adaya lagi kerja sama yang menuntungkan. Sehingga RORO membuat lebel sendiri yang bernama Reach & Rich Records.

Dan di tahun 2008 RORO menjadi band yang memiliki fans club di friendster sekitar 50.000. RORO juga salah satu band rock Indonesia yang memiliki fans club terbanyak. Rocket Rockers Friend adalah sebuah nama fans club dari rocket rockers. Rocket Rockers Friends sendiri mempunyai situs yang bertujuan untuk kita dapat bertukar informasi tentang rocket rockers dari atribut, singel rocket rockers teranyar, maupun jadwal manggung rocket rockers sendiri. Dan di tahun 2008 ini RORO juga mendapatkan kesempatan muncul di stasuun TV nasional seperti sebut saja “Dahsyat” RCTI, “Klik” dan “Planet Remaja” ANTV, “On The Spot” Trans7 dan beberapa acara tv lokal.

The end


*odie balzar*

Wednesday, March 25, 2009

Metalcore Essential !!

Oleh supriyanto - 18 Februari 2009 -

Metalcore, sebuah genre musik baru yang berkembang di USA, sering disebut juga sebagai New wave of American Heavy Metal menurut Sam Dunn di beberapa referensi yang pernah saya baca. Metalcore merupakan fusion dari berbagai genre musik yang berkembang di pertengahan tahun 90’an dengan akar dari musik hardcore, punk ,thrash metal dan juga sentuhan Swedish melodic death metal, yang terakhir ini memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi band band metalcore papan atas , dan hal ini diakui oleh Brian Flair dari Shadows Fall dan Howard Jones dari Killswitch Engage .Metalcore memiliki akar yang cukup kuat dari musik Hardcore / Punk, band yang tercatat membuat style dengan penggabungan konsep musik heavy metal dengan hardcore punk adalah Breakdown, dilanjutkan dengan band Hardcore lainnya seperti Damnation AD, Biohazard dan Madball yang memberikan dasar yang kuat bagi perkembangan musik Metalcore di kemudian hari.

PANTERA-ish style of heavy metal, adalah julukan yang tepat bagi jenis musik ini, dikala bubarnya PANTERA, symbol dari gelombang gebrakan musik metal banyak didominasi oleh musik Hip-metal / Nu Metal seperti Limp Bizkit, KORN, Linkin Park dan lain-nya. Seiring dengan berkembangnya zaman, musik jenis Hip metal nampak berkembang secara stagnant dan mulai ditinggalkan para penggemarnya yang mencari jenis musik lebih ekstreme dan groovy. Ya .. kuncinya adalah melodius riff gitar dan ketukan drum yang groovy , dipadu dengan style vox dari Phil Anselmo semasa masih di Pantera….maka jadi-lah konsep musik dasar dari Metalcore itu sendiri.

Metalcore merupakan istilah musik metal yang memiliki batasan yang kabur dengan jenis musik melodic death metal yang berkembang di benua Eropa di pertengahan tahun 1990’an. Perkembangan metalcore di USA,sebenarnya mulai menjamur, ketika beberapa band melodic death metal asal Swedia, seperti In Flames, Dark Tranquillity dan terutama At The Gates merambah tanah Amerika , walaupun hanya sebagai pembuka tour2x dahsyat dari Korn dan sejenisnya. Jenis musik melodic death metal yang mereka suguhkan ternyata memberikan batu loncatan dan inspirasi bagi band band baru untuk membuat konsep musik yang sejenis dengan mereka , namun dengan sentuhan US style yang lebih dominan sehingga cenderung lebih variatif dalam teknik vocal , komposisi yang bervariasi dari beat drum .. dengan contoh paling ekstrim kita bisa dapatkan dari band seperti The Black Dahlia Murder dan The Red Chord

Melodic Death Metal

Melodic Death Metal adalah aliran musik yang banyak berkembang di Eropa, di periode 1992 – 1995, dikala jenis musik old school death metal mengalami kemunduran dan banyak band death metal berganti aliran musik menjadi lebih soft baik dari komposisi musik yang digunakan juga karakter vocal yang dipakai, seperti yang terjadi pada Amorphis,Paradise Lost dan Sentenced.

There will be no melodic death metal if Carcass was not unleashed their fury with the mighty HEARTWORK ….!! Ya, benar ..Carcass memulai nya dengan milestone penting di genre musik ini dengan Heartwork, pattern2x riff yang sudah matang dibandingkan dengan album sebelumnya Necroticism Descanting the Insalobrious. Orang jenius dibalik dirilisnya album ini , tiada lain adalah Michael Ammott yang kemudian membawa soul melodic death metal ini pada band-nya kini, ARCH ENEMY…

Gothenburg sound juga lah yang menjadi urat nadi dan memiliki peranan penting bagi perkembangan melodic death metal di pertengahan 90’an, bersamaan dengan booming-nya sound In Flame-ish dan menjamurnya genre musik ini di belahan bumi Eropa sana, while di Amerika masih booming jenis musik Hip metal . 3 besar band yang memiliki pengaruh paling kuat di sub-genre ini adalah In Flames, Dark Tranquillity dan At the Gates.

Aftershock dan Burn the Priest memulai-nya .. :)

Aftershock adalah band thrash metal asal Springfield, Massachusetts yang membidani lahirnya dua band besar Shadows Fall dan Killswitch Engage di akhir 90’an. Dua band ini di awal kemunculan-nya memberikan milestone tersendiri bagi perkembangan musik metalcore. Shadows Fall di album pertamanya , Somber Eyes to the Sky memberikan milestone komposisi musik yang thrashy, catchy tapi dengan kombinasi vox guttural death metal dan shrieking ala Emo , kala itu Shadows Fall masih diperkuat oleh Phillip Labonte yang sekarang berada di All That Remains. Dengan masuknya Brian Fair sebagai pengganti Phillip di album berikutnya justru memberikan milestone baru bagi perkembangan jenis musik ini, dengan kombinasi teriakan vocal yang sangat powerful,yang sekilas memiliki karakteristik yang sama dengan Mikael Stanne dari Dark Tranquillity yang memiliki range vocal dan kualitas sama baik ketika bernyanyi secara clean non-growl ,screams dan growling.

Pengaruh dari tour konser At the Gates, dan In Flames di Amerika juga menjamah anak anak muda di Amerika sana dengan mencoba mengawinkan musik Gothenburg melodic death metal dengan root musik thrash metal , hal ini lah yang coba ditawarkan oleh Burn the Priest , band yang sangat terinfluence oleh style Pantera dan Slayer yang walaupun diawal kehadirannya band ini hanya merupakan band jamming di lingkungan asrama Commonwealth Virginia University yang beranggotakan Chris Adler, Mark Morton dan John Campbell. Band yang banyak terinspirasi dengan jenis musik yang lebih thrashy ini sedikit berubah haluan, dengan berganti nama menjadi Lamb of God setahun setelah keluarnya gitaris Abe Spears yang digantikan oleh Willie Adler dengan mencoba menghadirkan catchy riff dan memberikan style yang unik dan khas bagi musik mereka, Dan hasil-nya Lamb of God bisa dibilang sebagai band metalcore yang paling berhasil saat ini, dengan tingkat penjualan album album mereka yang konon telah mencapai 1.5 juta kopi di seluruh dunia yang diikuti dengan berbagai tour keliling dunia, seperti Unholly Alliance tour , Ozzfest dan lainnya.

Menjamurnya band Metalcore

Menjamurnya band dengan jenis musik metalcore ini tak lepas dari label label musik raksasa yang mulai menandatangai kontrak dengan band band ini, yang memang memiliki kualitas yang sangat baik. Tercatat label2x raksasa (di dunia metal ) seperti Nuclear Blast Records, Roadrunners ,Century Media dan Metal Blade memiliki andalan masing masing dalam genre musik ini. Trivium dan Chimaira adalah 2 nama terakhir yang menjadi andalan dari jenis musik ini. Trivium mencoba menyuguhkan komposisi musik thrash metal old school ala Metallica dengan catchy dan straight forward dual power riffing guitar yang sangat baik, sehingga tak salah bahwa Trivium adalah band yang paling menjanjikan kala ini. Album terakhir mereka, the Crusade membuktikan hal tersebut dengan komposisi lagu yang matang digabung dengan skill musikalitas yang cukup tinggi membuat Matt heavy dkk semakin menunjukkan ‘taringnya’ di dunia metalcore.

Chimaira,The Black Dahlia Murder, As I Lay Dying, All that Remains, Atreyu , Bleeding Through berada di baris berikutnya untuk meramaikan gegap gempitanya dunia metalcore dengan berbagai komposisi musikalitas yang cenderung berwarna warni dan memberikan nuansa tersendiri bagi musik metalcore . Chimaira menawarkan jenis musik hardcore-ish dengan komposisi yang lebih berat, The Black Dahlia Murder menawarkan konsep musik metalcore dengan jenis paling ekstrim , dengan warna musik yang mencampurkan musik melodic death metal sampai pada brutal death metal yang tentunya penampilan konsernya telah kita simak di akhir tahun lalu di Jakarta. Sementara yang cukup menonjol dari konsep As I lay dying adalah komposisi lagu lagunya yang bervariasi , mirip dengan Chimaira namun dikemas dengan kualitas sound yang lebih ‘soft’. All that remains memberikan nuansa death metal yang kentara , yang nantinya berkembang menjadi death-core ( sub genre metalcore ..seperti Divine Heresy dan Job for a Cowboy ), sementara Atreyu dan Bleeding through memberikan warna musik lebih ‘thrashy’

Kemunduran Metalcore ..?

Sebuah majalah terkenal ibukota membuat artikel ini sebagai headline ini beberapa waktu lalu, secara iseng iseng berhadiah saya mengikuti halaman per halaman dari artikel yang diberikan, namun penulis tidak mendapat petunjuk atau point of interest dari maksud judul headline tersebut dengan berita yang mereka sajikan yang justru makin membingungkan para pembaca dari majalah itu sendiri.

Bila kita lihat scene dalam negeri, kita bisa melihat makin banyak band metalcore yang mengunjungi negeri ini, diawali oleh Avenged Sevenfold, kemudian The Black Dahlia Murder dan yang akan datang adalah Bleeding Through. Juga di Indonesia terdapat banyak sekali bakat dan talenta musik jenis ini yang cukup mengakar dan memiliki fanbased cukup banyak, sebut saja Dead Squad , Beside dan Burger Kill dan justru dari realita yang ada , hal ini sangat kontradiktif. Metalcore akan terus berkembang dan berkembang dan memunculkan banyak sub-genre yang mencerminkan sebuah KEMAJUAN dari sisi kreatifitas dan ketertarikan orang pada jenis musik ini di masa kini dan masa yang akan datang.

Friday, January 9, 2009

AGAMA UNDERGROUND?


Kemudian kita memasuki penyimpangan Underground kedua. Yaitu bagaimana sebagian dari kita menganggap aliran musik yang kita bawakan seolah-olah seperti agama. Sehingga ketika ada yang mengkritik atau mencaci musik yang kita bawakan, kita cenderung marah dan mempersoalkannya menjadi lebih dramatis dan rararungsing. Dia langsung bertindak seolah-olah seperti 'polisi Underground' yang harus merepresi suara-suara kritis para musisi. Sejak kapan Underground punya polisi atau aparat? Ada gituh polisi punk atau hardcore? Kamra Metal? Brimob Hardcore? Dan jika kita tidak merasa sebagai aparat underground lantas kenapa kita bertingkah seperti seorang aparat?


Barangkali semua berawal dari kebanggaan terhadap apa yang kita temukan dan ciptakan dari karya musik yang kita buat. Kebanggaan yang berlebihan dengan apa yang kita punya akan membutakan kita dari kenyataan bahwa kita juga masih harus banyak belajar dari yang lain. Pengetahuan dan pengalaman kita tidak pernah cukup untuk membangun komunitas Underground yang lebih maju. Untuk itu kita mesti banyak berbicara, bergaul, dan mendengarkan mereka yang lebih berpengalaman. Banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang tidak dilihat dari jumlah umur, tapi sejauh mana dia berkecimpung di lingkungan pergerakannya.


Kalimat-kalimat "Aing Hardcore!", "Aing Emo!", "Aing Skinhead!", Aing "Straight Edge !" bisa diartikan dua makna oleh kita. Yang pertama ia bisa dijadikan sebuah komedi atau candaan yang tidak perlu dibawa serius (yang selalu dibercandakan oleh teman-teman saya di komunitas underground Bandung). Dan yang kedua, ia bisa dilihat sebagai proses pembelajaran diri. Dimana orang yang mengatakan itu sedang belajar bagaimana mencintai identitas baru yang menurutnya "cool" atau "keren" untuk diadopsi. Meskipun orang itu belum mengerti sejarah dan roots underground, setidaknya dia sedang belajar untuk mencintai sesuatu yang berbeda dari mainstream budaya yang umumnya dianut oleh masyarakat Indonesia yang cinta POP! Selanjutnya setelah melalu beberapa fase kehidupan, dia akan menyadari bahwa ide radikal dia yang dulu itu hanya merupakan trigger untuk menjadi siapa dirinya sekarang.


Dalam proses pembelajaran ini, orang melalui jalur pembelajaran yang berbeda-beda. Semua tergantung dari latar belakang pendidikan dan karakter pribadinya sendiri. Ada yang jatuh pada identitas POSER, dimana ia hanya berpakaian seperti anak punk/hardcore tapi tidak mengetahui punk ethicnya, ada yang jatuh pada identitas SOSIAL, dimana ia demen bergaul dengan orang yang baru dan berbeda-beda, ada yang jatuh pada identitas PENGUSAHA, dimana ia senang menyediakan produk-produk yang bisa dijual untuk mendukung lifestyle undergroundnya, dan ada juga yang jatuh pada identitas KEAGAMAANNYA, dimana ia menggunakan musik seperti agama; yang ia gunakan sebagai kambing hitam daripada sebagai semangat pembebas jiwanya.


Nah, di poin terakhir inilah yang sering saya khawatirkan. Musik Underground yang setelah puluhan tahun sejarahnya berfungsi sebagai penghapus kelas dan pemersatu kelas –kelas sosial dijadikan alat oleh masing-masing penggemar demi mengejar kepentingannya identitasnya sendiri.


Mereka yang bertingkah seperti 'Polisi Hardcore' terdapat banyak di sekitar kita. Peran yang mereka dapatkan sebetulnya bersifat granted oleh kawan-kawan sosialnya yang mengenalnya sudah lama. Ditambah dengan karakter pribadi yang 'sangar' dan 'dingin' kadang-kadang memberikan efek dramatis agar orang-orang di sekitar dia mau tunduk dan menerima semua yang dia bicarakan atau dia inginkan. Ya, seperti preman memang – Tapi Punker/DIY-ers tidak sama dengan Preman. Punker/DIY-ers adalah orang-orang mandiri yang mencintai kebebasan, perdamaian, anti kelas dan anti-otoritas. Punker/DIY-ers adalah orang-orang yang setara meskipun tidak sama satu sama lain. Tidak ada yang lebih tinggi status sosialnya dengan yang lain. Di sini, kualitas orang hanya dilihat dari apa yang dia mampu berikan untuk dirinya sendiri, keluarganya, dan untuk teman-temannya.


Selain mirip dengan preman, 'Polisi Hardcore' juga bertingkah seperti 'Polisi Agama' di Arab Saudi. Dimana mereka diberi jabatan khusus untuk menjaga moral dan keyakinan yang sesuai dengan kitab Suci yang dianut. Dalam Underground, tidak ada paksaaan keyakinan. Masing-masing pribadi berhak untuk meyakini apa yang dia ingin yakini. Bahkan untuk menafsirkan etos-punk, semua punya hak yang sama. Yang menjadi masalah ialah, jika ia mengatasnamakan dirinya Punk, Hardcore, Metal, atau Underground secara keseluruhan, dengan penafsiran etos-punk yang tidak akurat 'menyalah-nyalahkan' keyakinan orang lain dan menganggap dirinya lah yang paling benar. Orang seperti ini disebut sebagai FASIS. Serupa dengan keyakinan ortodoks Neo-Nazi pengagum Adolf Hitler dan Mussolini yang membenci orang-orang kulit hitam, Yahudi, dan non-kulit putih secara keseluruhan.


Tapi Underground di Bandung tidak mengenal hierarki di atas pribadi seseorang. Tidak ada yang namanya 'Polisi Hardcore' atau 'Polisi Underground'. Jika kita membenci para aparat yang 'memakruhkan' bahkan 'mengharamkan' musik underground, lantas kenapa kita harus berlaku seperti mereka? (Paps)