Friday, November 1, 2013

Berserah



Seperti matahari yang terbit pada pagi hari dan terbenam pada petang hari, lalu melahirkan gelap pada malam hari. Kita tidak bisa untuk memaksakan sesuatu hal pun. Kita tidak bisa menahan matahari untuk terbit atau terbenam yang telah berjalan sesuai dengan siklus waktu. Yang bisa kita lakukan hanya terus berjalan dalam keadaan apapun. Melanjutkan perjalanan sesuai dengan alamat yang kita tuju dengan segala resiko dan cobaan yang melintang. Dengan segala kesenangan dan kepedihan yang menantang. 

Jika katamu berbagi kebahagiaan itu mudah, maka itu berlaku juga dengan kepedihan. Tetapi tidak untuk melupakan. Matahari tidak pernah beranjak dari tempatnya. Dia tetap berada di tempat yang sama. Bumilah yang mengelilinginya sesuai dengan hukum tata surya. Di Bumi, yang tampak Matahari hanya sinar dan panasnya saja. Sinarnya mampu menerangi seluruh semesta. Panasnya pun mampu untuk menembus kulit bahkan tulang kita. Lalu memberikan cahaya untuk mata kita. Walau jaraknya jauh ribuan kilometer dari tempat kita berada. Cinta akan tetap pada tempatnya berasal. Dalam beranda diri manusia. Tempat yang paling nyaman untuk disinggahi. Dan kamu telah singgah dalam relung berandaku.

Terimakasih untuk segalanya. Terimakasih untuk tabah mencintaiku dalam gelap. Dalam kepastian yang belum tentu pasti. Dengan mencintaimu aku dapat lebih mengenal hidup. Mencintaimu dapat membuat aku untuk lebih mencintai diriku dan Tuhanku. Kita hanya bisa untuk memutuskan, tetapi yang memastikan semuanya adalah Yang Maha Pasti. Jika memang nyatanya kita telah berada dipersimpangan dan memilih jalan yang berbeda. Tidak mungkin kita bisa mengelak jika nanti akan kembali dipertemukan untuk dipersatukan pada persimpangan yang akan datang. 

Kamu tetaplah dengan rencanamu. Aku pun dengan rencanaku. Cita-cita menjadi Ibu Rumah Tangga merupakan cita-cita paling mulia untuk seorang wanita. Sungguh beruntung Ayah dari anak-anakmu, kelak. Jalani hidup dengan suluruh Kasih-Nya. Jangan meremehkan dan berburuk sangka dengan-Nya. Sesungguhnya Tuhan itu Maha Baik. Hanya itu pesanku. Katakan juga kepada Tuhanmu dan berterimakasihlah kepadanya, karena cintamu telah sampai di genggaman tanganku.

Saturday, September 28, 2013

Selamat 28, September.

Selamat 28, Septermber.
Saat ini adalah hari dimana saya dilahirkan, hari dimana saya merasakan kefanaan di dunia keluar dari rahim seorang ibu yang sebelumnya mengalami proses yang cukup lama. Terimakasih, Ibu, Ibu, Ibu, Ayah.

Menurut saya, tidak ada yang harus dirayakan untuk bertambahnya usia. Kita hanya harus menghargainya. Biasanya saya menghargai hari kelahiran dengan perenungan dan nyepi. Ini adalah saat dimana saya semakin gelisah untuk menjalani hidup. Semakin merasakan tanggung jawab dalam menjalani hidup. Bertambahnya usia yang semakin tua atau pemikiran yang tidak bisa menjadi dewasa bukanlah suatu masalah. Tetapi yang menjadi masalah adalah berpikir jika hidup saya tidak bermanfaat untuk sesama. Dan itu yang sering ada dalam hidup saya. Saya tidak tahu sisa umur saya berapa. Tetapi, hidup berbicara tentang perjuangan. Berarti sudah cukup lama saya untuk merasakan hidup. Setelah melewati usia belasan, sekarang saya mulai untuk memasuki usia puluhan. Dan ini merupakan awal dari saya untuk merasakan usia puluhan. Merasakan awal dari kehidupan mulai dari fase Nol kembali.

Saya percaya bahwa Nol adalah awal untuk kita ketahap berikutnya mulai dari awal kembali. Menurut saya, 0-10 merupakan masa kecil, 10-20 merupakan masa remaja, 20-30 masuk kedalam masa dewasa hingga kematangan, 30-40 berada sampai di usia matang, 40-50 masuk kedalam usia matang menuju usia tua kita, 50-60 saat dimana kita harusnya semakin merindukan kepada yang menciptakan kita menjadi manusia seutuhnya. Lebih dari usia tersebut itu adalah bonus untuk kita lebih menikmati kehidupan. Kita mempunyai lima tahapan dalam hidup. Tapi saya hanya membagi menjadi empat bagian: Remaja, Dewasa, Matang, Tua. Karena masa kecil (anak-anak) merupakan masa pembentukan diri kita, belum seutuhnya mengetahui kehidupan. Atau dalam bahasa agama disebut dengan akil-baligh. Selain itu, empat bagian ini pun saya ambil dalam karakter diri dalam tokoh pewayangan Punakawan, yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.

Lagi, menurut saya kita harus menanamkan diri Punakawan dalam diri yang terdiri dari Cipta, Rasa, Karsa, dan Karya. Pada usia remaja kita memasuki proses Cipta (pemikiran dan akal), dewasa kita memasuki proses Rasa (memakai hasil pemikiran dan akal dengan perasaan), Karsa adalah tahap dimana kita memasuki usia matang (niat dan kemauan), dan sampai pada puncaknya Karya (pencapaian dari Cipta, Rasa, dan Karsa menjadi sesuatu yang menghasilkan). Atau jika ingin menemukan siapa diri kita dari dalam. Kita harus melalui jalan yang sepi, menuju jalan yang sunyi, lalu menuju ke jalan hening, hingga sampai pada akhirnya mencapai jalan suwung. Jalan sepi adalah jalan menyendiri dan jauh dari keramaian rame ing sepi, disini pemikiran dan akal diolah. Menuju kedalam jalan hening atau sunyi dengan kembali ke keramaian rame ing rame, maka disini rasa akan diasah dengan keseharian. Lalu, kita melalui jalan hening yang dimana kita menyepi dalam keramaian sepi ing rame. Hingga pada akhirnya kita menempuh jalan suwung, dimana sepi dan ramai tidak ada bedanya. Mencipta disemua keadaan. Berkarya sepanjang masa. Tetapi, semua ini tidak harus terpatok pada usia yang saya sebut diatas. Jika Anda baru mengetahui pelajaran yang seperti ini dan ingin mengetahui kesejatian diri, bisa memulai dari awal. J

Pada waktu SMP atau proses setelah saya mengalami masa kecil, saya mengalami proses awal kegelisahan dalam diri. Kegelisahan disini bukan berarti galau. Menurut saya, kegelisahan adalah suatu keresahan yang mimiliki poros, tetapi kalau galau itu tidak. Dalam kegelisahan saya mulai mempertanyakan siapa sesungguhnya diri saya. Mempelajari asal muasal diri saya (asal muasal perwujudan diri saya). Darimana saya diciptakan, untuk apa, dan nanti akan kembali kemana setelah saya mati. “Karena sesungguhnya sesuatu yang hidup sudah pasti akan mati, tetapi yang mati belum tentu akan dimatikan”. Pertanyaan demi pertanyaan muncul dari akal pemikiran saya. Dengan awal kegelisahan tersebut, saya mengalami yang namanya proses berkembang. Saya mencoba berkembang dengan diri saya sendiri. Mencari tahu rahasia (jawaban) dari setiap pertanyaan. Dan pertanyaan sudah membuat saya menjadi berkembang. Dalam hidup pertanyaan bagaikan batu bata yang dibangun untuk menjadi suatu rumah. Disusun sekian banyak dan sedemikian rupa hingga rumah tersebut itu jadi. Pertanyaan juga suatu proses pembelajaran kita. Untuk itu mengapa dalam hidup kita diharuskan untuk selalu belajar. Apapun, dimanapun, kapanpun, oleh siapapun, dan dengan cara bagaimanapun. 

Sejak SMA saya juga mulai mempertanyakan kesejatian hidup. Saya mulai merindukan yang namanya kematian. Merindukan pencipta saya. Saya bukan orang yang takut untuk mati. Saya merupakan orang yang takut untuk hidup di dunia. Tapi dunia juga telah mengajarkan saya untuk berkelana dalam hidup. Berserah. Mencari keseimbangan dalam diri. Mengisi ketiadaan dalam diri. Meyakini diri dalam diri sendiri. Belajar. Diskusi. Tidak untuk sukses. Tidak untuk bahagia. Toh nanti juga kita akan mati. Selain itu, sejauh ini saya pun masih belum mendapatkan makna dari sukses dunia yang seungguhnya/kesejatian, begitupun bahagia. Karena yang saya dapat di dunia hanyalah kegembiraan dan kesenangan semata. Sedangkan yang saya cari adalah bahagia yang sejati. Mungkin ini bisa menjadi bahan pembelajaran saya selanjutnya. Tetapi sesungguhnya bukannya hidup di dunia ini hanya senda gurau belaka? Ya, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau [QS Muhammad [47]:36]. Hidup adalah permainan sandiwara. Didalamnya terdapat kisah, babak, plot, adegan, skenario, karakter dan ide. Dia yang menjadi Sutradara, yaitu empunya ide. Dia menghidupkan karakter. Dari karakter muncul skenario, yang sedari-mula telah dituliskan. Tiap aktor atau aktris adalah perwujudan dari karakter yang kisah hidupnya dalam babak demi babak telah ditentukan dalam plot atau alurnya. Sesempurna mungkin ditiap adegan dan tidak mungkin keluar dari skenario. Matilah sandiwara, kisah, babak, plot, adegan dan skenario jika Sutradara menghendaki. Berubah plot jika Sutradara menghendaki. Namun Ide tidak akan pernah mati. Ia hidup sejak bermula hidup. Hidup yang tidak berakhir.

Saya menyadari bahwa saya terlahir sebagai janin sendiri-bukan berarti tanpa bantuan dan pertolongan orang lain-maka nanti menjadi mayat pun sendiri. Hingga sekarang saya menganggap diri saya di dunia ini tidak ada. Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, tidak mempunyai apa-apa untuk dunia. Tetapi apa-apa yang ada hanyalah Dia, Allah Yang Maha Ada. Meski tidak tampak, sesungguhnya Ada-Nya ada. Seperti angka yang dimulai dari 1-9, Dia adalah 0. Tidak berada didalam, tidak berada diluar dari angka. Seperti saya yang tidak bisa melihat telinga, jantung, paru-paru dan semua organ yang berada didalam diri saya atau tidak tampak di dalam saya sendiri, saya meyakini Ada-Nya. Karena buktinya saya bisa mendengar, bernafas, dan hidup. Seperti agama Islam yang berkedudukan sebagai agama penyempurna dari semua agama. Saya pun ingin menjadi penyempurna untuk semesta dan diri saya. Penyempurna harus ada yang disempurnakan, pun sebaliknya. Jika tidak ada yang disempurnakan lalu apa fungsi penyempurna. Penyempurna pun bukan berarti paling sempurna. Maka dari itu Islam tidak berdiri sendiri, saling menguatkan dengan agama-agama lain. Begitupun hidup dan diri saya. Selain dengan orang-orang yang berada disekitar saya sebagai penyempurna untuk diri saya. Pemberdayaan akal, hati, dan pemikiran saya tetap harus disempurnakan. Jasmani-rohani dan raga-jiwa harus seimbang agar saling menguatkan. Bukan hanya raga yang harus diolah. Begitupun hati, rasa dan ilmu juga perlu untuk diolah.

Nol adalah awal dari segalanya. Saya dalam proses untuk mencoba bunuh diri. Bunuh diri bukan berarti membunuh diri (raga). Tetapi membunuh segala rasa penyakit hati (sirik, dengki, iri, dendam, munafik, dusta, dsb) untuk menjadi terlahir kembali. Berkenala kembali dari titik nol di tahap berikutnya.  Menjadi manusia yang berbudaya-manusia yang mengambil suatu makna- bukan manusia pragmatis-manusia realistis yang mengambil nilai guna- dalam hidup di dunia. Mungkin dengan ini saya bisa menemukan bahagia yang sejati sebelum berlanjut untuk mencapai Kesadaran asal-muasal kejadian. Lalu Menemukan Cahaya. Cahaya di atas Cahaya. Semoga.

Tidak untuk bermaksud untuk menggurui, tetapi saya disini hanya berbagi bagaimana saya belajar. Bersyukur jika bermanfaat. Tidak pun tidak apa-apa. Tidak ada paksaan. Maafkan segala kesalahan saya dalam berkata.
Salam--

Friday, August 2, 2013

Fatamorgana

mata kubutakan
telinga kutulikan.
kuenyahkan tipu daya panca indra,
kubangkitkan segala asa jiwa,
kuhidupkan semesta hanya dengan kata.

kupejam
kupertajam asah rasa.
kutandai
kurasai semesta yang tak kasat.
kutemui dirimu,
kurasuki aku untuk menjumpai.

kutandakan hasrat, tapi
kau tandaskan isyarat.
cinta memang datang tanpa tanda, tapi
apa rindu juga bisa hilang enyah?
Entah..

[JGB 2/8]

Tuesday, July 23, 2013

Memanusiakan Manusia, Memuliakan Sesama

Setiap manusia adalah mahluk, namun tidak setiap mahluk adalah manusia. Bahkan ada pula manusia yang belum menjadi manusia yang seutuhnya. Kita bisa belajar untuk memanusiakan manusia, memuliakan sesama. Manusia merupakan mahluk sosial. Manusia merupakan mahluk yang tidak bisa hidup sendiri. Bahkan untuk membenci seseorang pun kita harus membutuhkan orang lain untuk dibenci, begitupun sebaliknya, untuk mencintai seseorang kita pun harus membutuhkan orang lain yang harus kita cintai. Demi massa sesungguhnya manusia itu merugi. Maka dari itu, alangkah baiknya jika kita untuk selalu mencintai antar sesama. Bermanfaat dan berguna bagi sesama.

Pada waktu kecil saya pernah mempertanyakan bahwa kenapa manusia di dunia itu harus membeli tanah kepada pihak tertentu, padahal sejatinya tempat yang kita tinggali ini merupakan bumi Tuhan? Dari pertanyaan tersebut saya mencari jawabannya, saya belajar untuk memahami kehidupan. Saya belajar melalui pelajaran di sekolah, berdiskusi dengan teman atau siapapun itu yang bisa untuk diajak berdiskusi. Karena sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang lebih tahu diantara kita. Hanya lebih dahulu tahu, tidak kurang, tidak lebih. Siapapun adalah murid siapapun. Guru pada mulanya merupakan seorang murid. Namun, seorang murid pada akhirnya belum tentu bisa menjadi seorang guru.  Maka dari itulah guru adalah sebaik-baiknya murid, karena guru mampu menjaga dan memastikan ilmu untuk tetap bisa mengalir. Dan sebaik-baiknya guru adalah ia yang masih belajar bahkan kepada muridnya.

Kembali kepada pertanyaan saya diatas. Ketika saya belajar di sekolah, seorang guru menjelaskan kepada saya tentang fungsi negara didirikan. Ketika itu pula saya menemukan jawaban dari pertanyaan saya. Bahwa suatu negara berfungsi agar suatu wilayah itu bisa berkembang serta memakmurkan rakyatnya. Agar siklus perekomonian terus berputar dan negara tersebut bisa tetap bertahan. Negara melakukannya dengan cara mengambil pajak dari rakyat, memanfaatkan kekayaan alam untuk diolah, dan sebagainya. Alam dan manusia memang erat kaitannya. Manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa mahluk-mahluk yang mendukungnya. Akar dan batang tanpa air dan tanah, tiada berdaya. Daunan tanpa sinar matahari, layu dan mati. Bunga tanpa lebah, alur ekosistem terganggu dan bahkan terhenti. Seperti itulah kita berada di dunia. Saling membutuhkan satu sama lain.

Tapi pada kenyataannya kini, manusia seolah-olah tidak peduli kepada alam. Saya berpendapat bahwa Tuhan menciptakan manusia memang untuk merusak. Karena manusia untuk mengolah tambang minyak, manusia harus mengebor bumi terlebih dahulu. Menghasilkan kertas atau alat-alat property rumah, manusia harus menebang banyak pohon. Ekploitasi alam secara berlebihan terus dilakukan oleh manusia hingga saat ini. Manusia seolah tidak pernah puas akan materi untuk memperkaya diri sendiri. Mall, Apartment, hingga perumahan mewah semakin banyak dibangun tanpa memperdulikan wilayah lingkungan hijau dan sesama manusia disekitarnya. Manusia seolah tidak seperti manusia. Manusia bahkan kalah mulia dengan binatang. Jika binatang bisa berhenti dikala perut mereka telah kenyang, tapi manusia seakan-akan tidak pernah merasa kenyang untuk memperbesar perut mereka. Terus mengejar harta dan tahta tanpa pernah merasa cukup. Padahal Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk paling mulia dengan memberikan manusia akal budi. Bukan hanya merusak alam, manusia juga merusak dirinya sendiri. Manusia merusak dirinya sendiri dengan sifat-sifat iri, dengki, sirik, dll. Merusak. Membuat konflik dengan permusuhan. Kekerasan mengatasnamakan agama. Sifat yang bisa menimbulkan penyakit untuk dirinya sendiri.

Tetapi disini kita dapat terus belajar, bahwa dalam setiap keburukan pasti terdapat kebaikan. Kita harus terus belajar untuk bagaimana cara bisa menjadi manusia sutuhnya. Memanusiakan manusia, memuliakan sesama.  Karena, sebaik-baik manusia adalah sesiapa yang memberikan manfaat kepada sesamanya. Dan, sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi sesamanya adalah ia yang tidak pernah merasa perlu untuk merasa berjasa, ia yang berbuat baik bukan untuk membuat orang lain merasa berhutang budi, dan ia yang tidak menuntut balas budi dari apa yang telah dilakukannya. Berderma untuk mengharapkan pahala memang baik, tapi jauh lebih baik lagi jika kita berderma karena kebaikan peduli antar sesama.  Kebaikan mengabadi sebagai kebaikan jika dan hanya diterima dengan baik pula, bukan dengan buruk dan merusak. Kebaikan terancam berubah menjadi keburukan jika diterima dengan buruk dan untuk merusak. Kita tetap bisa belajar dari kebaikan maupun keburukan untuk tumbuh arif dan bijak. Dari keburukan, kita belajar untuk menjadi baik. Dari kebaikan, kita belajar untuk menjadi lebih baik. Terimalah kebaikan dan keburukan dengan baik, jangan memperburuk keadaan. Jadi, jangan pernah merasa kesal ketika kita merasa ada orang yang hanya membutuhkan kita hanya disaat mereka perlu saja. Karena memang sudah kodrat kita diciptakan sebagai manusia adalah untuk bisa terus bermanfaat kepada sesama.

Apakah kita sudah menjadi manusia yang seutuhnya? Yuk, mari kita bercermin bersama dengan sama-sama mawas diri. Agar kita bisa menjadi manusia yang seutuhnya, manusia yang memanusiakan manusia, manusia yang memulikan sesama.

Salam--


Friday, July 19, 2013

Pertanyaan dan Pertanyaan II

Dalam hidup, kita selalu disuguhi oleh pertanyaan-pertanyaan. Meski pada mulanya, setiap manusia pada saat dilahirkan itu sama. Sama-sama tidak memiliki pengetahuan, dan tidak memiliki pengalaman. Setiap manusia dilahirkan dari orang tua [ayah-ibu]. Orang tua pada awalnya adalah seorang anak. Tapi seorang anak belum tentu menjadi orang tua. Maka dari itu, agama mengajarkan untuk selalu berbakti kepada orang tua, dengan mendoakannya dari doa anak yang sholeh. Seorang anak dilahirkan dari rahim ibunya dengan keadaan yang tidak bisa apa-apa. Lalu Tuhan memberikan pendengaran, pengelihatan, akal, dan hati. Setelah itu orang tua memberikannya modal awal dengan cara kasih sayang, pendidikan, pengajaran, pengalaman dan juga keyakinan. Hingga membuat seorang anak itu berkembang. Seperti yang sudah kita tahu, pertumbuhan dan perkembangan, anak bisa belajar dari keluarga, lingkungan, sekolah dan pergaulan. Dengan pengetahuan seorang anak bisa mempelajari dan menabung pengalaman-pengalaman hingga nantinya dewasa dan bisa untuk membedakan serta memutuskan sesuatu yang benar/salah dengan akal sehat dan hati nurani.

Ketika seorang anak mengalami pubertas, mungkin pertanyaan mendasar mulai terdapat dalam benak dan diri seorang anak. Semakin rasa ingin tahu yang hinggap didalam dirinya bagaikan seorang filsuf. Anak mulai ingin mengetahui siapa dirinya, untuk apa sesungguhnya mereka ada di dunia, sejatinya untuk apa mereka dilahirkan, dan pada kepada siapa mereka nantinya akan berpulang. Bahkan yang lebih fundamental adalah ketika seorang anak mempertanyakan kenapa mereka harus memiliki keyakinan yang sama seperti orang tuanya. Pernah dihantui pertanyaan seperti ini? Sudah ketemu jawabannya? Oke. Ini yang mau sedikit saya share. Bukan untuk maksud menggurui, tapi saya hanya ingin share pengalaman saya aja kepada kalian.

Ketika waktu kecil saya tidak pernah dikasih tau “kenapa” say harus mengikuti keyakinan orang tua. saya hanya diberi tahu apa, siapa, bagaimana, dimana.  Apa agamamu? Islam, Kristen, Hindu, dan Budha. Siapa Tuhanmu? Allah pada Islam. Bapak, Putra, Roh Kudus pada Kristen dan Para Dewa untuk Hindu dan Budha.  Dimana menjalankan ibadah? Masjid, Gereja, Pura, Wihara. Tapi tidak bernah diberitahu “kenapa”. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW, "Orangtualah yang pada awalnya menjadikan seorang anak itu beragama Islam, Nasrani, Majusi, atau Yahudi".  Sampai pada akhirnya saya mencoba untuk mencari sendiri jawaban dari setiap pertanyaan. Saya tidak ingin bertuhan sesuai dengan dogma dari orang tua, dokrin dari guru dan dari pengaruh lingkungan yang ada. Dengan pertanyaan yang ada, saya menjadi semakin mendalami agama. Saya meyakini bahwa Tuhan itu Esa [satu/tunggal]. Belum jauh saya mendalami agama yang saya yakini, saya sempat tidak yakin dengan agama yang saya peluk. Saya mempertanyakan kenapa agama yang saya yakini ini akrab sekali dengan yang namanya kekerasan bahkan teroris. Lalu saya mencoba untuk tidak hanya sekadar memeluk agama, tapi menyetubuhi (menjiwai) agama. Saya mencoba mempelajari beberapa agama lain. Tapi saya belum memutuskan untuk berpindah atau keluar dari agama saya. 

Pada dasarnya semua agama itu sama, yaitu sama-sama mengajarkan yang namanya kebaikan. Islam itu Indah, Kristen itu kasih, Budha itu Cinta dan Hindu itu Damai. Tapi lagi-lagi saya tetap meyakini bahwa Tuhan itu Esa. Saya tidak menemukan itu diketiga agama tersebut, selain agama dari keturunan saya (Islam). Allah. Tidak ada yang lain selain Allah. Dia sesungguhnya yang sempurna, pemelihara manusia, penguasa manusia, dan pencipta manusia, sesuai yang tekandung dalam surat An-Nas. Saya kembali untuk mempelajari lebih jauh, semakin menjiwai, semakin merasuk. Ternyata Islam adalah Mulia (Sempurna). Muslim adalah jalan menuju mulia. Islam sesungguhnya adalah memberi rahmat bagi Alam Semesta “rahmatan lil-aalamiina”. Mengajarkan untuk memuliakan manusia, mencintai alam semesta, dan isi dari alam semesta itu sendiri. Bukan hanya kepada sesama muslim saja. Seperti yang saya pelajari dari perkataan dari guru saya, “Islam itu bukan sekadar salat, puasa, zakat, haji, atau syariah, tapi Islam adalah jujur kepada manusia. Islam adalah cinta kepada manusia, Islam adalah keindahan. Jadi, kalau Anda mengaku Islam tapi tidak indah atau suka kekerasan, Anda belum tentu Islam”. Islam tidak hanya seperti yang diucapkan oleh Ustad di televisi, memperbincangkan betapa angker Islam, pahala dan dosa, surga dan neraka, halal dan haram. Tapi dengan Tauhid, Tasawuf dan Sufi Islam menjadi jauh lebih Indah. 

Tidak ada paksaan dalam beragama. Tidak seharusnya perbedaan pendapat dan perbedaan keyakinan memutuskan perkawanan. Apalagi, Allah menciptakan umat manusia berbeda-beda memang untuk saling mengenal dan bergaul. Terjawab sudah pertanyaan saya. Pastinya masih akan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain nantinya. Karena sesungguhnya manusia tidak akan pernah luput dari pertanyaan. Sekali lagi, ini tidak ada maksud untuk menggurui atau apapun. Maaf kalau ada yang tidak berkenan :).

Jadi sampai saat ini, Masihkah kau beragama sesuai agama keturunan? Masihkah kau bertuhan sesuai dogma orangtua, doktrin guru, atau pengaruh lingkungan? Mengapa kau tidak memulai sendiri perjalanan menemukan kesejatian hidup? Sebelum terlambat, kalian bisa memulainya dari sekarang dan meyakini apa yang benar-benar kalian yakini ;).

salam--

Tuesday, July 16, 2013

Cahaya Aku Terang

seaktu-waktu aku terbangun dengan dunia yang gelap
dunia yang tak tampak sedikitpun cahaya, karena cahaya entah tertinggal dimana 
tetapi walau tanpa cahaya, anehnya aku bisa menjalani hidup
menjalani hidup dengan dunia yang gelap seperti selayaknya manusia

dalam duniaku yang gelap
sesekali aku mengharapkan sosok Terang 
tak henti aku terus mencari cahaya
dan mencoba menimbulkan cahaya dengan sendirinya 
tapi tidak bisa!
tak jarang juga aku merasa lelah 
dengan lelah, aku hanya bisa untuk menanti 
tak ada yang lain! 
selain menanti cahaya datang dan mengantar aku kepada Terang dengan sendirinya

hingga pada akhirnya aku menemukan Terang 
terlihat setitik cahaya di dalam aku 
tapi aku maih belum berani untuk mendekatinya 
aku masih berdiam diri 
membiarkan aku dan Terang untuk sama-sama mendekatkan diri 
aku terus mengamati 
memahami dan menelaah segala sesuatu kemungkinan yang akan terjadi

sementara cahaya semakin membesar, Terang semakin jalas terlihat 
terang ramah membuat nyaman untuk duniaku 
tapi entah bagaimana dengan Terang kepadaku? 
apa dia merasakan hal sama dengan ku atau tidak 
tapi memang didalam duniaku yang gelap 
banyak kemisteriusan yang hinggap 
mungkin ini yang membuat terang datang mendekat kedalam duniaku, ah tapi entahlah.

Libra yang melekat dalam diri senang sekali untuk menimbang-nimbang
tak jarang aku dibuatnya bimbang 
keyakinan masih tampak malu 
cukup membutuhkan waktu untuk aku meyakinkan aku 
aku tahu, bahwa waktu yang dibutuhkan pasti tidak akan sebentar 
tapi tetap aku harus pilih ini agar aku tidak salah dalam memilih

hari-hariku terus diikuti oleh cahaya 
duniaku tidak segelap seperti sebelumnya 
walau masih terluhat redup 
aku merasa semakin menyayangi hidup
dengan cahaya aku seperti menemukan dunia yang baru 
dunia yang belum pernah aku singgahi sebelumnya 

disaat aku menanti yakin 
terang seperti menanti kapan 
cahaya semakin tak terkira 
cahaya benar-benar menerangi duniaku menuju kepada Terang 
Terang kebahagiaan semakin membuatku tenang 
aku seolah takluk dalam peluk 
hingga yakin datang dan berkata dengan lantang, 
"Ya! Itu adalah cahaya yang sebenarnya, bukan serupa cahaya". 

Terang itu kamu 
disisa usiaku, aku persembahkan untuk kamu 
walau memang di dunia ini semuanya adalah mungkin 
setidaknya kita bisa saling menerangi dalam gelap
sama-sama saling menguatkan 
menghidupi cahaya menjadi lebih banyak warna
bukan hanya sekadar menjalani dan berjalan dalam cahaya

maaf, aku tak mampu mengelak saat cahaya itu datang
semoga dalam kita, cahaya tak lekas hilang 

Saturday, July 13, 2013

LOKANANTA: Harta Karun Musik Indonesia

 LOKANANTA; Harta Karun Musik Indonesia

(foto: koleksi pribadi)

Lokananta merupakan studio rekaman pertama di Indonesia milik pemerintah yang didirikan oleh R. Maladi pada tahun 1956. Tujuan dari didirikan Lokananta oleh R. Maladi adalah berawal untuk  kepentingan siaran RRI.  Radio Republik Indonesia yang tersebar di berbagai kota Indonesia, memiliki berbagai macam  lagu daerahnya masing-masing. Oleh karena itu R. Maladi berinisiatif untuk mendirikan Lokananta sebagai pusat tempat rekaman dan pengarsipan lagu-lagu daerah. Pada awalnya sebelum memiliki nama Lokananta, Lokananta memiliki nama ‘Indra Fox’. Indra merupakan singkatan dari kata Indonesia Raya dan fox diambil dari Bahasa Belanda. Namun  ketika nama Indra Fox diusulkan kepada Presiden Soekarno, nama tersebut tidak di setujui kerena tidak memiliki arti yang jelas. Kemudian nama Lokananta  dipilih dan diusulkan kembali kepada Presiden Soekarno. Lalu, beliaupun langsung menyetujui nama Lokananta. Lokananta memiliki arti “Gamelan dari kayangan yang bisa berbunyi sendiri tanpa penabuh”. Nama adalah doa! Konon katanya Gamelan Sri Kuncoro Mulyo yang dibuat pada zaman pangeran Diponogoro ini kerap berbunyi sendiri. Dipilihnya letak Lokananta di Kota Solo pun ternyata ada alasannya, ini dikarenakan Kota Solo yang merupakan Kota Kebudayaan Indonesia.

Kesuksesan R. Maladi mendirikan Lokananta ternyata bisa dibilang sangat sukses. Lokananta sebagai studio rekaman satu-satunya milik pemerintah dibawah naungan Departemen Penerangan Republik Indonesia pada saat itu menjadi pusat kebudayaan lagu-lagu daerah. Selain itu, Lokananta juga sebagai label rekaman besar yang banyak mencetak artis-artis lawas yang saat ini telah menjadi maestro, yaitu Waljinah, Gesang, Titik Puspa, Bing Slamet, Jack Lesmana, dll. Hingga saat ini, Lokananta masih menyimpan lebih dari 40.000 piringan hitam. Piringan hitam tersebut terdiri dari berbagai lagu-lagu daerah di Indonesia, pidato kenegaraan Presiden Soekarno, Proklamasi, hingga lagu Indonesia Raya 3 Stanza direkam di Lokananta. Studio rekaman dan peralatan yang ada di Lokananta juga masih menjadi jawara hingga saat ini. Akustik ruangan studio Lokananta bisa dibilang tidak ada tandingannya di Indonesia. Ruangan studio pun memiliki luas seukuran 2x lapangan futsal. Mixer TRIDENT buatan (London, Inggris) yang hanya ada 4 di dunia salah satunya terdapat di Lokananta. Mixer analog 32 channel ini, sampai sekarang masih berfungsi dengan cukup baik.
*****
Pada sekitar tahun 2000-an, semenjak Departemen Penerangan Republik Indonesia di likuidasi oleh pemerintah. Lokananta berada dibawah naungan Perum PNRI sebagai Perum PNRI cabang Surakarta (LOKANANTA). “Semenjak likuidasi DEPEN, pegawai Lokananta yang telah menjadi pegawai negri kembali ke induknya masing-masing dan pegawai yang bertahan di Lokananta saat ini adalah pegawai yang tersisa di jaman dulu”, ucap Titi pegawai Lokananta yang sudah berdedikasi selama 18 tahun di Lokananta. Jadi, meskipun Lokananta berada dibawah naungan perusahaan pemerintah, tetapi ternyata pegawai yang berada di Lokananta status kepegawaiannya bukan pegawai negri. Sangat membingungkan memang, ketika kita mengetahui bahwa Lokananta merupakan instansi dibawah naungan pemerintah, namun pada kenyataannya status kepegawaian para pegawai yang berada di Lokananta bukan seorang pegawai negri.

Lokananta sekarang bertahan. Biaya oprasional Lokananta saat ini lebih mandiri. Penjualan album dari produksi lagu-lagu lama kembali didistribusikan dengan bentuk kepingan CD dan pembayaran sewa lahan oleh pihak ke-3. Selain itu, lahan yang dulunya berfungsi sebagai gudang seng sekarang dialih fungsi sebagai lapangan futsal. Menurut Direktur Lokananta Pendi Heryadi dari hasil sewa lahan tersebut memberikan income yang cukup untuk biaya oprasional gaji pegawai saat ini.

Penyimpanan piringan hitam di Lokananta sebenarnya bisa dibilang kurang layak. Ruangan yang seharusnya terdapat pendingin udara (AC) untuk menjaga piringan hitam tidak berjamur, ternyata tidak terlihat di ruangan arsip. Agar suhu ruangan tetap terjaga, setiap harinya pegawai Lokananta hanya membuka-tutup jendela. Lalu menggunakan kopi bubuk dan kapur barus untuk menghilangkan bau lembab. Padahal, arsip ini merupakan identitas musik Indonesia. Indentitas kebudayaan Indonesia. Tapi pemerintah seolah tidak peduli dengan keadaan Lokananta sebagai aset berharga budaya bangsa.

*****
Lokananta seperti ayam kehilangan induknya. Ibarat kata seperti “Hidup Segan Matipun Tak Mau”. Tapi didalamnya ternyata Lokananta masih memiliki semangat. Masih terdapat pegawai yang dengan loyalitas tinggi mengabdikan dirinya untuk Lokananta. Menjaga aset berharga bangsa. Kita harus mengetahui sejarah [khususnya untuk musik Indonesia]. Lokananta merupakan rumah musik Indonesia. Akar musik Indonesia berawal dari Lokananta. Jangan sampai musik Indonesia menjadi yatim piatu yang tidak diketahui asal usulnya. Setidaknya dengan saya menulis tentang Lokananta. Untuk kalian yang tadinya tidak mengetahui darimana Musik Indonesia berasal, kalian menjadi tahu. Syukur kalau kalian bisa membantu untuk membangun kembali masa kejayaan Lokananta menjadi seperti dulu. Caranya? Dengan mempromosikan kembali aset budaya bangsa [Lokananta] ke dunia. Mengajak musisi-musisi muda melakukan rekaman atau sekadar berkunjung dan melihat gedung tua yang bersejarah bercerita dijamannya [Lokananta]. Ingat kata Bung Karno, “Never Leave History [Jangan Pernah Meninggalkan Sejarah!] Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai dan tidak pernah meninggalkan kebudayaannya”.

[artikel ini belom selesai sepenuhnya, nanti akan saya post versi lengkapnya ;D]

Tuesday, July 2, 2013

Dia

senja berlalu, gradasi perbedaan warna menyatu
terpancar sinar keindahan dan kebahagiaan
setiap detik dan detak saat bersamamu, tak ada satu detikpun yang tak berkesan
banyak rinduku yang mati dalam pelukmu
lalu, aku dapat melihat dunia yang baru

biru dan orange saling menggegam
yaa, sekarang aku tahu fungsi ruas yang ada di jemariku
kekasih, atau siapapun kau mesti kupanggil
di dalam pikiranku, tak ada yang lebih indah selain menjadi tua bersamamu
mencintaimu.. itu nyata dalam diriku

JGB [25 Juni '13]

Friday, May 10, 2013

Pengalaman Berharga

Beberapa hari yang lalu, tepatnya (7/5) baru saja saya bertemu dengan Wendi Putranto, seorang Executive Editor Rolling Stone Magazine. Seorang jurnalis yang menginspirasi saya dengan cara pemikirannya. Kepentingan saya bertemu dengan dia adalah bertujuan untuk menjadikan dia sebagai narasumber film dokumenter yang sedang saya garap dengan tim tentang studio musik Lokananta. Pilihan saya jatuh kepada seorang Wendi Putranto karena dia merupakan seorang jurnalis musik yang berkecimpung sangat lama di dunia jurnalistik musik Indonesia.

Awal mula cerita, saya telah mempunyai konsep film dokumenter telah tersusun dengan rapih. Tapi saya hanya mengetahui dia lewat twitter. Dari sekian banyak followers twitter akun @wenzrawk, saya merupakan salah satu followers-nya. Ketika saya iseng membuka timeline dari @wenzrawk, kebetulan akun email dia waktu itu terdapat di dalam timeline-nya. Jadi saya tidak perlu lagi repot-repot untuk menanyakannya. Nah! Email sudah dapat. Langkah selanjutnya jelas saja saya langsung mengirimkan email yang bertujuan untuk membuat janji agar saya dan tim bisa melakukan peliputan. Bersyukur Mas Wend merupakan orang yang cukup responsif dengan email saya. Akhirnya ditentukanlah tanggal yang diatas saya sebutkan tadi.

Pertemuan saya dengan Mas Wend berlangsung tidak cukup lama. Saya tiba di kantor Rolling Stone tempat dia bekerja sekitar pukul 18:30 (padahal seharusnya saya janjian sekitar pukul 18:00. Hehe). Untung Mas Wend sangat memaklumi hal ini dan saya berharap semoga dia sedang sibuk pada jam tersebut. Setiba di kantor Rolling Stone, saya disapa hangat oleh satpam yang berjaga di kantor tersebut. Di persilahkan saya pada sebuah ruangan yang cukup tenang yang sesuai untuk standart pengambilan gambar. Tanpa buang waktu, saya langsung set kamera yang saya bawa. Melakukan uji coba pada kamera beberapa kali agar gambar yang dihasilkan cukup baik. Setelah sekitar 15 menit berselang, datanglah jurnalis inspirator saya. Wow! Saya sempat terdiam sejenak. Entah apa yang harus saya katakan. Saya hanya tersenyum sampai saya lupa untuk mengenalkan nama saya sendiri. Hehe. Sapaan hangat dari dia membuat saya sedikit tersadar. Tapi tetep rasa grogi dan deg-degan masih terasa sangat jelas. (ini pertama kalinya saya mewawancari seorang inspirator hidup saya). Obrolan-obrolan pembuka dilontarkan untuk mencairkan suasana. Minuman dingin dan ruangan AC membuat pikiran menjadi dingin. Setelah semuanya siap. Mulailah saya dalam sesi wawancara. Seperti yang saya ucapkan diawal. Jawaban yang terucap dari seorang Wendi Putranto lagi-lagi membuat saya cuma bisa membuat saya bengong dan berkata "wow". Itu terjadi karena jawaban dia yang luar biasa ngehek dan cerdas. Pemikiran-pemikiran aneh sang Jurnalis tertumpahkan hanya dalam hitungan detik seusai pertanyaan dilontarkan. Yaa, inilah yang membuat saya terinspirasi oleh dia. Pemikiran aneh yang nyeleneh tapi cerdas.

Sekitar 45 menit wawancara selesai. Seluruh pertanyaan telah habis dilahap oleh Mas Wend. Diselang waktu, saya mencoba isi dengan diskusi kecil tentang musik Indonesia. Sementara teman saya mengemasi peralatan kamera satu demi satu. Hanya satu jam saya berhadapan dengan sang jurnalis ngehek inspirator saya itu. Sebentar memang. Tapi menurut saya itu merupakan momment yang cukup lama. Mungkin karena grogi dan ruangan AC membuat saya terasa membeku. Sebelum pamit saya mencoba mengabadikan momment dengan dia. Yeah! Ini hari yang istimewa.. Hehe.

Wednesday, April 3, 2013

Sendiri Itu Asik

Kemarin merupakan tanggal 2 April, berarti terhitung sudah 2 tahun saya menjadi jomblo. Sebenernya ini bukan sesuatu yang membanggakan yah? Hehe. Tapi yang ingin saya bahas saat ini bukan masalah kenapa saya menjadi jomblo, karena itu sudah pernah saya post di blog ini. Lagian juga yang udah berlalu ya biarin aja berlalu. Iya ga? Hehe.

Oke. Sekarang saya pengen sedikit berbagi aja, tanpa ada maksud untuk menggurui atau apapun itu. Pada awalnya, sendiri memang merupakan suatu hal yang ga enak. Saat harus berpisah dari orang yang dicintai rasanya memang sangat menyakitkan. Bener ga? Itu semua terjadi karena perpisahan itu merupakan suatu hal yang sama sekali tidak diharapkan. Apalagi hubungan yang dibangun terbilang belum lama. Pasti rasa sakit yang kita alami lebih besar ketimbang hubungan itu sudah terjalin bertahun-tahun. Atau malah sebaliknya? Ah tapi yang pasti setiap perpisahan itu menyakitkan. Mau perpisahan yang diputuskan secara bersama/sepihak ataupun perpisahan yang sudah di tentukan oleh Tuhan (kematian). Hehe. Lagian memang ga ada yang mengharapkan adanya sebuah perpisahan. Karena setiap orang pasti mengharapkan suatu hubungan terjalin dengan baik. Tapi tanpa bisa dipungkiri, setiap hubungan yang terjalin pasti ada sebuah perpisahan. Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Lalu hubungan biar bisa terjalin dengan baik bagaimana?

Hubungan yang baik? Saya pernah sharing dengan seorang temen saya tentang ini. Saya tanya dia "apa sih yang penting dalam menjalin hubungan?", terus dia jawab "yang jujur, sayang, dan peduli", "oke terus", tapi ga ada yang sempurna kan?". Kalau saya simpulkan disini memang ga ada manusia yang bisa sempurna, tetapi jika kedua orang bisa saling mengisi, menurut saya kesepurnaan itu pasti ada. Oke, tapi bukan ini yang saya bahas.

Bukan maksud untuk menggurui atau apapun. Ini saya hanya sedikit berbagi pengalaman saya aja. Memang apa yang dibilang teman saya itu benar. Tapi menurut saya yang penting dalam menjalin suatu hubungan itu adalah adanya rasa saling toleransi, saling memahami dan saling mengerti diantara keduanya. Kenapa? Karena setiap orang itu pasti memiliki keinginan serta ego-nya sendiri. Dan keinginan setiap orang itu pasti berbeda-beda. Jika diantara kedua orang itu tidak ada toleransi, ya maka yang ada malah adu ego diantara mereka dan membuat suatu hubungan tersebut tidak terjalin secara baik. Ya, sekali lagi itu hanya pendapat saya, jadi jika setuju ya silahkan tetapi jikapun tidak ya ga apa-apa.

Itu sedikit pembahasan tentang suatu hubungan, selanjutnya saya ingin sedikit ngebahas tentang menjadi 'single'. Menurut saya, single itu hanya status. Single juga ternyata tidak seburuk apa yang dipikirkan. Jika hanya ingin kasih sayang, banyak kasih sayang yang bisa didapat. Mesikupun itu bukan dari seorang kekasih. Tapi kasih sayang dari keluarga dan orang-orang terdekat bisa membuat anda untuk tetap mendapatkan kasih sayang. Single juga bisa membuat anda lebih fokus untuk meraih mimpi-mimpi dan cita-cita yang diinginkan (apalagi kalau usia Anda masih terbilang muda). Malah saya sendiri aja sekarang lebih nyaman 'sendiri' jika dibanding saat memiliki pasangan yang sekiranya itu hanya sebagai 'status' saja. (Dalam kata lain biar dibilang engga jomblo).

Sendiri memang bisa membuat saya nyaman. Saya bisa melakukan kegiatan apa saja yang saya suka dengan teman-teman, melakukan apa saya inginkan tanpa dibatasi, meraih mimpi, cita-cita dan masa depan saya dengan fokus. Tanpa harus terbagi. (Sebab jika kita telah memutuskan untuk memiliki pasangan, kita harus membagi seluruh hidup dengan pasangan bukan? Mulai dari waktu, kebahagiaan, dan hal yang lainnya). Selain itu juga memang belum ada aja wanita yang tepat untuk saya atau memang belum ada wanita yang beruntung yang bisa mendapatkan saya? Hehe :p.

Sedikit sharing tentang diri saya. Saya memang orang yang punya sisi idealis tinggi, sistem pemikiran yang random, ya kalau bisa dibilang 'semau gue-lah'. Jadi engga gampang juga kalau ingin memahami dan menjalin hubungan dengan saya. Banyak memang yang sempet deket dengan saya, tapi itu akhirnya hanya sampai sebagai teman. Karena ga ada kecocokan, dan rasa menimbulkan rasa nyaman untuk saya maupun dia. Malah-malah saya dibilang 'raja PHP'. Sebenarnya sih engga ada niatan untuk bikin PHP. Tapi saya merupakan bukan tipe orang yang ga bisa dengan cepat memilih pasangan. Perlu waktu yang lama untuk saya memahami orang tersebut dan sampai akhirnya saya yakin. Sebab ada beberapa kriteria tersendiri dalam diri saya untuk memilih pasangan. Karena untuk mencari pasangan, saya engga mau itu hanya sekadar status. Makanya saya agak sedikit pemilih dengan hal ini. Hehe.

Itu aja sih yang ingin saya share. Jadi, sebelum memulai suatu hubungan. Yakini lagi dalam diri anda. Apakah itu sesungguhnya cinta, atau hanya serupa cinta? :)

Salam~

Saturday, March 9, 2013

Kehendak

Awan..
Suatu karya Tuhan yang sangat mengagumkan
Menghiasi langit untuk memberikan keindahan
Tidak bisa dibayangkan, jika langit tanpa awan
Pasti tidak akan ada kombinasi warna yang menakjubkan
Awan tercipta untuk hujan
Dia tidak pernah menanyakan untuk apa air itu turun
Dia tidak pernah menanyakan mengapa air itu turun
Dan dia juga tidak pernah menanyakan berapa banyak air itu turun
Dia selalu rela mengikuti hukumnya
Air yang dia jatuhkan mengalir sampai ke daratan
Dibawanya air tersebut melalui aliran sungai menuju lautan
Sesampai di lautan air tersebutpun kembali menjadi awan
Terus dan menerus seperti itu
Awan memang sering terlihat bersama hujan, tapi
Apa mungkin jika awan tidak akan melepaskan hujan?
Lalu hujan..
Dia tercipta karena awan
Dia mahluk Tuhan yang setia menunggu awan
Padahal hanya untuk dijatuhkan
Indah rintiknya pun selalu saja disalahkan
Disaat musim penghujan, dia banyak menjadi perbincangan
Dikala kemaraupun, dia juga menjadi omongan banyak orang
Padahal sebenarnya hujan turun bukan untuk disalahkan
Dia memberikan kesejukan dalam rintiknya
Bagaimana jadinya jika hujan tak ada?
Tapi kenapa dia menjadi yang selalu disalahkan?
Begitu juga pelangi
Dia adalah karya Agung Tuhan yang tak perlu ditanyakan keindahannya
Banyak orang yang mengaguminya
Dia hadir disaat selepas rintik hujan jatuh
Tapi keindahannya hanya terlihat sementara
Dia tidak seindah awan yang selalu terlihat disaat apapun
Kenapa?
Matahari..
Ya mataharilah sumbernya
Semua terjadi karena peran serta Matahari
Jika tak ada Matahari, air tak akan menguap menjadi awan
Hujan yang turunpun tak akan berhenti
Lalu bias sinar pelangi tak akan hadir selepas hujan reda
Mataharilah yang menentukan kehendaknya

Friday, March 8, 2013

Cinta Bukan Kita

awal kita tidak pernah menyangka bahwa ini adalah cinta
datang secara tiba-tiba tanpa pernah kita sangka
untuk merasakan kehadiran tanda-tanda cinta itu ada
getarannya dapat terasa melalui tatapan mata

lalu, kita sama-sama meyakini bahwa ini adalah cinta
menjatuhkan sebuah rasa atas nama cinta
cinta yang pada kenyataannya bukan cinta
cinta yang hanya serupa cinta
cinta itu bukan kita
cinta itu hanya cukup sebatas aku dan kamu

Wednesday, March 6, 2013

Atas Nama Kamu (Antara Kesetiaan dan Kebodohan)

"Banyak orang yang berkata bahwa aku bodoh, tetapi itu kata mereka dan bukan kataku. Lagian bukankah cinta membuat manusia menjadi terlihat bodoh?
Atas nama kamu, aku melakukan hal yang menurut orang lain anggap itu bodoh. Tapi bagiku itu tidak, yaitu menunggumu.
Atas nama kamu, aku melakukan pernyataan yang menurut orang lain anggap itu bodoh. Tapi bagiku itu tidak, yaitu aku masih mencintaimu.
Atas nama kamu, aku mempertanyakan pertanyaan yang menurut orang lain anggap itu bodoh. Tapi bagiku itu tidak, yaitu masihkah kamu mencintaiku?"
Saya rasa diantara kalian juga pernah merasakan sulitnya untuk meninggalkan. Puisi diatas dibuat dan terinspirasi dari seseorang yang menolak untuk pergi dari hati, sesorang yang selalu membuat isi kepala seakan-akan selalu penuh oleh dirinya. Ya, hanya dirinya seorang.
Dan puisi ini.. Entah sampai kapan puisi ini akan berlaku.
"Atas nama kamu, kusimpan sedikit kenangan. Dan kupendam beribu mimpi harapan".
[Nov, 2012]